Sabtu, 26 Mei 2012
Baubau: Volume Sampah Meningkat 30%
Jumat, 10 September 2010 07:42
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 10/9 (SIGAP) - Volume sampah yang dihasilkan masyarakat kota Baubau, menjelang perayaan hari raya Idhul Fitri 1431 H, meninggat hingga 30 persen per hari.

Kepala Dinas Kebersihan Kota Baubau, Mz Tamsil Tamim di Baubau, Kamis mengatakan, dalam sehari petugas kebersihan yang dikenal dengan `pasukan kuning` mengangkut sampah ke Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) sebanyak 150 hingga 200 kubik per hari.

"Setiap tahun menjelang hingga perayaan lebaran, volume sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga cukup tinggi," katanya.

Tamsil menambahkan, pihaknya telah menerjunkan sebanyak 168 tenaga kebersihan terlatih yang disebar di seluruh wilayah Kota Baubau, untuk mengangkut sampah-sampah tersebut.

"Kami mempunyai 15 unit armada pengangkut sampah. Masing-masing armda tersebut sudah mempunyai petugas pengangkut sampah," katanya.

Tamsil mengatakan, selama bulan Ramadhan, petugas sampah tetap mejalankan tugas seperti bulan biasanya. Petugas kebersihan telah dibagi sesuai dengan tugas masing-masing.

"Ada yang betugas sebagai pengangkut sampah, dan ada juga yang bertugas sebagai petugas menyapu jalanan dan pembersih makam," ujarnya.

Dirinya menambahkan, Khusus H-1 lebaran Idhul Fitri, petugas pembersih sampah menjalankan tugas hingga malam hari, sehingga semua sampah yang dihasilkan rumah tangga jelang lebaran bisa terangkut.

"Biasanya sehari jelang lebaran, volume sampah meningkat. Karena semua masyarakat yang merayakan lebaran membuat berbagai macam masakan dan makanan untuk keperuan mereka masing-masing," katanya.

Pengalaman Yogyakarta

Inisitif pengelolaan sampah berbasis masyarakat sudah dikerjakan di Yogyakarta.

Adalah desa Sukunan dalam mengelola sampah dan melaksanakn program 3R (reduce, reuse, recycle).

Seperti kita ketahui, Desa Sukunan merupakan desa wisata yang berhasil memberdayakan masyarakatnya dalam mengelola sampah.

Desa dengan penduduk 890 jiwa tersebut menjadi inspirasi desa-desa lain dalam pengelolaan sampah secara wilayah.  Dari pengelolaan sampah secara swadaya, desa tersebut dapat menghasilkan uang hampir Rp 4 juta/bulan.

Sebagian dari penjualan kompos dan sebagian lagi dari kerajinan sampah plastik. Yang terbaru, desa tersebut juga telah memiliki Istalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) komunal bantuan dari Pemerintah Jepang.

Menurt Iswanto, salah satu pencetus pengelolaan sampah 3R Desa Sukunan, untuk membuat masyarakat untuk peduli pada sampah memang  harus dilakukan secara bertahap. Organisasi masyarakat harus jelas dan semua masyarakat harus ikut andil walaupun sekecil apapun.

“Secara organisator pengelolaan sampah ada di bawah kendali Ketua RW. Tiap bulan ada laporan pendapatan dari pengurus. Di dea initidak 100% masyarakatnya mengelola samph, untuk itu sosialisasi kepada masyarakat harus terus dilakukan, tentunya dengan metode atau strategi yang berbeda” katanya seperti dikutip ciptakarya.pu.go.I'd mei lalu. (wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita