Sabtu, 26 Mei 2012
Raskin Diolah Jadi Kerupuk
Kamis, 09 September 2010 05:08
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 9/9 (SIGAP) - Sejumlah warga penerima beras untuk keluarga miskin (Raskin) di Ciparay Kabupaten Bandung mengolah beras bersubsidi yang diterima untuk bahan baku membuat "kerupuk pelered".

Odeng, salah seorang penerima Raskin di Desa Pakutandang Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung, Kamis (9/9) mengatakan, dibandingkan beras biasa, beras Raskin sangat bagus dibuat bahan baku kerupuk pelered, mengembang dan bisa menghasilkan kerupuk lebih banyak," kata Odeng, salah seorang penerima Raskin di Desa Pakutandang Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung, Kamis.

Kerupuk pelered merupakan kerupuk khas di Bandung Selatan dengan bahan baku dari beras yang dibuat berbentuk bunga mawar dengan warna yang warna-warni.

Dirinya menyebutkan, selama ini mendapat bagian beras bersubsidi itu. Awalnya digunakan untuk memasak, namun kemudian dicobanya untuk membuat kerupuk pelered, dan hasilnya lebih bagus dari beras yang dibelinya dengan harga normal.

"Sayangnya bagian beras Raskin sedikit, paling hanya beberapa liter per kepala keluarga. Hal itu karena dibagi rata karena jumlah penerimanya lebih banyak," kata Odeng.

Odeng dan istrinya merupakan salah seorang pengrajin pelered, namun skalanya kecil karena terkendala modal. Kerupuk pelered buatannya hanya untuk memenuhi permintaan dari warga di sekitarnya.

"Bila raskin yang diterima lebih banyak, mungkin bisa memberikan nilai tambah bagi Abah," katanya.

Dirinya tidak mengetahui pasti beras pelered lebih bagus bila menggunakan Raskin. Meski demikian, dirinya tidak memaksakan membeli raskin untuk kepentingan produksi pelerednya itu.

"Raskin adalah hak rakyat kecil, nggak boleh dipakai komersil. Namun untuk sesekali boleh kan bila ada nilai tambahnya," katanya.

Alokasi Raskin untuk Agustus 2010 yang lebih banyak karena mendapat pasokan dari alokasi September membuat warga lebih leluasa menggunakan Raskin untuk membuat kerupuk pelered untuk kebutuhan Lebaran keluarga masing-masing.

Berdasarkan catatan SIGAP, sejak bulan awal Agustus lalu alokasi beras bagi rumah tangga miskin atau kerap disebut rumah tangga sasaran (RTS) untuk September 2010 dipercepat antara lain agar bisa memenuhi kebutuhan warga dalam menghadapi Lebaran pada tahun ini.

Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog), Abdul Waris Patiwiri mengatakan, alokasi bagi masyarakat miskin yang sebesar 15 kilogram per bulan per RTS, kini didobelkan atau dirapel sehingga untuk yang bulan September akan diserahkan juga pada bulan Agustus, paling lambat awal September.

Hal ini dilakukan pemerintah guna mengantisipasi kenaikan harga menjelang Lebaran. (rusman/ant)

 

Arsip Berita