Sabtu, 26 Mei 2012
APTINDO: Harga Terigu Naik Bertahap Setelah Lebaran
Rabu, 08 September 2010 03:21
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 8/9 (SIGAP) - Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (APTINDO) memperkirakan harga terigu akan naik secara bertahap setelah Lebaran, menyusul harga bahan baku gandum yang terus meningkat.

Direktur Eksekutif APTINDO, Ratna Sari Loppies, di Jakarta, Selasa malam, menjelaskan, harga gandum mengalami kenaikan pada Agustus, menyusul turunnya produksi dan stok akibat gagal panen di sejumlah negara yang menjadi sentra produksi, seperti Rusia dan Ukraina.

Ratna mengatakan pada akhir Agustus, harga gandum jenis keras (HRW) di pasar internasional telah mencapai 288 dolar AS per ton, naik sekitar 39% dibandingkan bulan yg sama tahun lalu sebesar 207 dolar AS per ton.

Sedangkan harga jenis lunak yang berprotein rendah naik sekitar 70% menjadi 275 dolar AS per ton dibandingkan Agustus 2009 sebesar 161 dolar AS per ton.

"Kenaikan (harga tepung terigu) pasti ada, tapi bertahap. Kami akan melakukan sosialisasi terlebih dahulu," ujar Ratna tanpa menyebutkan kepastian kapan dan berapa persen kenaikan harga tepung terigu.

Ratna mengatakan, kenaikan harga tepung terigu terutama terjadi pada terigu berprotein rendah yang biasa dipakai untuk industri biskuit, karena harga gandum lunak naik signifikan. Dirinya mengakui harga tepung terigu jenis itu sudah naik saat ini.

"Tepung terigu yang mulai naik saat ini adalah yang berprotein rendah. Apalagi impor tepung terigu sebesar 40.000 ton dari Turki ke Indonesia yang sebagian besar berprotein rendah dihentikan karena Turki kekurangan stok," kata Ratna.

Saat ini, kata Ratna, harga tepung terigu berprotein rendah telah naik dari Rp90.000 menjadi Rp115.000 per sak.

Ratna juga memaparkan pada tahun ini produksi gandum dunia turun tujuh juta ton menjadi 644 juta ton, padahal konsumsi naik dua juta ton menjadi 657 juta ton. Sementara stok gandum dunia mengalami penurunan delapan juta ton menjadi 184 juta ton.

Sementara itu Ketua Umum APTINDO Franciscus Welirang mengatakan kenaikan harga tepung terigu tergantung kebijakan masing-masing produsen. Ia memperkirakan hal itu terjadi pada akhir September.

"Pada kuartal IV akan ada perubahan (harga) terigu, mungkin akhir September," katanya.

Kenaikan harga, lanjutnya, akan sangat tergantung pada kondisi pasar.

Seperti dilansir Sinartani, ada dua cara utama untuk mengurangi kebutuhan atau menekan impor gandum yang selama ini dicoba upayakan di Indonesia.

Pertama, mengembangkan produksi gandum dalam negeri. Kedua, mensubstitusi sejauh mungkin kandungan gandum pada produk –produk makanan olahan dengan jenis-jenis serealia, umbi-umbian atau lainnya yang produksi dalam negeri.

Tetapi kedua upaya ini kelihatannya masih tersendat kurang dukungan motivasi kepentingan nasional yang kuat, perencanaan dan koordinasi yang mantap serta konsistensi .

Gandum memang bukan tanaman asli Indonesia, tetapi tanaman daerah dingin ini tercatat sudah menggauli bumi Indonesia selama lebih dari 200 tahun.

Dimulai dengan penanaman percobaan di Cirebon tahun 1790, pengembangan selanjutnya dicoba di Surakarta, Tengger, Timor, Merbabu, Pengalengan, daerah Karo (Sumatera Utara) dsb. Pada zaman RI upaya pengembangan berlanjut dan terjadi pelepasan sejumlah varietas unggul lokal.

Namun, berbagai kendala teknologi, kultural, pendanaan maupun ekonomis belum juga terpecahkan sehingga terkesan masih jalan di tempat.

Beberapa varietas yang telah dilepas adalah Timor tahun 1981 dengan potensi hasil 2 ton/ha, Nias (1993; 2 ton/ha), Selayar (2003; 2,95 ton/ha), Dewata (2003; 2,96 ton/ha), dan DWR-162 (2004; 2,96 ton/ha).

Penelitian dan pengembangan yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertanian bersama dengan berbagai perguruan tinggi maupun lembaga swasta, bahkan juga Badan Tenaga Atom (BATAN) yang berusaha mengembangkan tanaman gandum untuk kawasan tropis.

Di luar inisiatif pemerintah, berbagai lembaga swasta juga menjalin kerjasama dengan kalangan perguruan tinggi maupun lembaga pemerintah untuk pengembangan tanaman gandum di Indonesia.

Di antaranya oleh APTINDO dengan 5 perguruan tinggi tahun 2000, dan PT Bogasari Flour Mills bersama BATAN mulai 2001. (wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita