Sabtu, 26 Mei 2012
1.000 Jiwa Lebih Warga Kalibaru Banyuwangi Terisolir
Selasa, 07 September 2010 07:46
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 7/9 (SIGAP) - Sekitar 1.000 jiwa lebih atau 500KK-600KK warga Dusun Lekab, Desa Banyu Anyar, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi, Jawa Timur, hingga kini masih terisolasi menyusul putusnya sebuah jembatan yang menghubungkan dusun itu dengan Dusun Krajan setempat.

Putusnya jembatan tersebut akibat hantaman banjir bandang yang melanda kawasan tersebut, Senin (6/9) dinihari, namun musibah banjir bandang tersebut tidak sampai menelan korban jiwa, kata Kepala Desa Banyuanyar Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi, Jawa Timur, Munasir.
Munasir menjelaskan pihaknya belum bisa berbuat banyak karena terhalang kondisi cuaca yang masih hujan dibagian hulu wilayah desanya.

Menurutnya, jembatan sepanjang 20 meter yang merupakan satu-satunya penghubung Dusun Lekab dengan Dusun Krajan Desa

Banyu Anyar itu putus setelah dihantam banjir bandang yang membawa bongkahan dan potongan kayu yang diduga sisa hasil pembalakan liar di kawasan lereng Gunung Raung yang merupakan bagian hulu sungai yang melintasi desanya.

"Karena peralatan yang ada sangat terbatas jadi kami belum bisa menyingkirkan potongan kayu yang sekarang masih melintang di dasar sungai di sekitar jembatan yang putus," ungkap Munasir.

Akibat putusnya jembatan itu sedikitnya 1.200 jiwa atau sekitar 500 KK hingga 600 KK warga Dusun Lekab, Desa Banyuanyar kecamatan Kalibaru, Banyuwangi, terisolir karena tidak bisa melintasi jembatan tersebut. Selain memutuskan jembatan yang dibangun dengan dana sebesar Rp190 juta, banjir bandang juga merusak saluran irigasi dan jalan desa di Dusun Curah Leduk Desa Banyu Anyar.

Sebelum banjir bandang menghantam sejumlah wilayah Desa Banyuanyar Kecamatan Kalibaru, hujan sempat mengguyur kawasan lereng Gunung Raung yang merupakan daerah hulu desa tersebut, Minggu (5/9). "Kekawatiran warga akhirnya terjadi ketika warga akan makan sahur, air sungai yang melintasi desa ini meluap dan tidak lama kemudian memutus jembatan yang menghubungkan dusun Lekab dengan dusun Krajan," papar Munasir.

Musibah tersebut mengundang keprihatinan dari Arif, warga Banyuwangi yang tinggal di Jakarta. Menurut alumnus Universitas Muhammadiyah Jember ini , persoalan banjir berawal dari pengelolaan lingkungan hidup yang amburadul. “Lihat saja aktivitas penggundulan hutan di sekitar lereng Gunung Raung yang makin gencar dan tak terkendali,” katanya kepada SIGAP, Selasa (7/9).

Oleh karena itu, Arif berharap Pemkab Banyuwangi bersikap tanggap mengatasi dan menanggulangi bencana ini.  Selanjutnya, imbuh Arif, membuat program tentang pendidikan lingkungan hidup. “Ini sebagai langkah pencegahan bencana di masa mendatang,” katanya.  (laporan sofyan badrie/ant)



 

Arsip Berita