Sabtu, 26 Mei 2012
Berkaca Pada Gempa Yang Tak Memakan Korban
Senin, 06 September 2010 02:48
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 6/9 (SIGAP) – Indonesia agaknya dapat belajar dari negara lain dalam kesiapan menghadapi bencana diantaranya bencana gempa. Gempa bumi berkekuatan 7,1 SR di Selanda Baru yang terjadi pada Sabtu (4/9) pagi tidak menimbulkan korban jiwa. Dikabarkan hanya 2  warga yang terluka akibat gempa itu.

Jika dibandingkan dengan gempa di Haiti Januari lalu terlihat sangat berbeda. Gempa berkekuatan 7 SR yang terjadi di Haiti itu justru menewaskan 230.000 jiwa.

Bila ditelusuri, 2 peristiwa yang serupa namun dengan dampak yang sangat kontras itu disebabkan sejumlah faktor, diantaranya pengalaman dan kualitas bangunan yang bagus.

Pakar Geofisika dari Badan Survei Geologi AS, Paul caruso seperti dikutip di laman MSNBC dan Stuff mengatakan,  perbedaan utama adalah Selandia Baru punya banyak pengalaman menghadapi gempa. Selain itu, negara ini memiliki tata konstruksi yang bagus untuk menjamin bahwa bangunan-bangunan yang dihuni warga memang layak menghadapi gempa yang kuat.

Sementara situasi berbeda dihadapi Haiti. Salah satu negara termiskin di dunia itu hanya memiliki sedikit bangunan yang layak huni. Selebihnya, penduduk tinggal di bangunan yang gampang rubuh saat terjadi guncangan.

Selain itu, faktor krusial lain yang mempengaruhi perbedaan dampak antara gempa di Haiti dan di Selandia Baru adalah waktu kejadian. Gempa di Haiti terjadi sore hari, pada pukul 16.53, atau saat banyak orang beraktivitas di penjuru Ibukota Port-au-Prince.

Di Selandia Baru, gempa terjadi pada pukul 4.36, atau saat sebagian besar penduduk di Kota Christchurch dan sekitarnya masih beristirahat di dalam bangunan.

Menurut Caruso, risiko terbesar justru menimpa mereka yang tengah berada di luar bangunan, terutama di kawasan perkotaan. Bila berada di antara bangunan-bangunan bertingkat, mereka lebih rentan terkena reruntuhan bangunan.
Bagi Caruso, mereka yang berada di dalam bangunan justru lebih aman. Namun dengan syarat, bangunan itu memang didesain untuk menghadapi gempa dan penghuninya juga melakukan penyelamatan darurat, seperti berlindung di kolong meja.

Kantor Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB) sejak awal telah gencar mensosialisasikan pentingnya kesiapan masyarakat Indonesia dalam menghadapi bencana alam seperti bencana gempa bumi. Dan agaknya upaya mensosialisasikan kesiapan dalam menghadapi bencana akan terus dilakukan oleh kantor SKP BSB.

Berbagai kegiatan dilakukan oleh kantor SKP BSB terkait soal kebencanaan ini. Sejumlah diskusi telah dilakukan untuk mencari format yang efektif dalam memberikan penyadaran kepada masyarakat akan pentingnya mitigasi bencana atau kesiapan dan tindakan-tindakan pengurangan resiko bencana.

Pernah dalam sebuah kesempatan SKP BSB, Andi Arief mengingatkan, sudah selayaknya Kota Metropolitan seperti Jakarta dan Surabaya memprioritaskan riset mikrozonasi, khususnya untuk mengetahui sejauh mana kelabilan tanah di kota-kota tersebut. “Pembuatan peta mikrozonasi gempa yang komprehensif itu penting dan akan membantu kita mengetahui lebih jelas keberadaan patahan-patahan itu. Tujuannya, mengetahui berbagai potensi kerusakan yang akan dihadapi jika terjadi gempa,” kata Andi.

Dalam kesempatan yang lain, Direktur Manajemen Pencegahan dan Penanggulangan Bencana (MPPB) Ditjen PUM Kemendagri H Mohammad Roem mengatakan, paradigma lama penanggulangan bencana yang lebih menonjolkan peran dan tanggung jawab pemerintah sebagai pengelola bencana telah mengalami perubahan sesuai jiwa UU No. 24 tahun 2007  tentang Penanggulangan Bencana.

Roem menegaskan, salah satu spirit dari UU tersebut, paradigma penanggulangan bencana yang semula hanya menjadi tanggung jawab pemerintah telah berubah menjadi tanggung jawab semua komponen masyarakat pada pra bencana, saat bencana/tanggap darurat dan pasca bencana. (laporan rusman/sigap)

 

Arsip Berita