Sabtu, 26 Mei 2012
Langkat: Penjualan Perabot Rumah Tangga Turun Drastis
Minggu, 05 September 2010 14:56
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 5/9 (SIGAP) - Penjualan alat-alat perabot rumah tangga seperti kursi tamu, lemari pakaian, lemari makan, tempat tidur, lemari hias, menjelang Lebaran 1431 H turun drastis, di Kota Stabat, Kabupaten Langkat.

Hampir 75%, penurunan yang terjadi dari tahun 2009 yang lalu, kata Alai alias Legino pemilik toko perabot Nusantara Jalan H. Zainul Arifin Stabat, Minggu (5/9) ketika ditanyakan omset penjualan barang-barang perabot di tokonya.

"Kalau pun ada yang dijual seperti hari-hari biasa, tidak ada peningkatan yang berarti, padahal Hari Raya Idul Fitri sudah masuk 5-H," katanya.

Alai juga tidak tahu penyebabnya apa, namun pihaknya menduga karena masyarakat lebih mementingkan membeli kue dan pakaian, atau hal-hal lain untuk kepentingan Lebaran.

Mungkin juga, penghasilan masyarakat semakin berkurang, sehingga untuk membeli alat-alat perabot rumah tangga mereka tidak lagi memikirkannya sekarang ini.

Sedangkan menurut pengamatan Jefri, salah seorang pekerja di toko perabot yang lain, kurangnya animo masyarakat membeli alat-alat rumah tangga, mereka lebih cenderung membeli kebutuhan lain, yang mereka rasa lebih mendesak seperti HP atau sepeda motor.

Padahal kalau tahun sebelumnya, hampir rata-rata masyarakat yang ada di Secanggang, Hinai, Sawit Sebrang, Wampu, sering membeli ke tokonya, namun sekarang sepi terus.

Padahal harga jual perabotnya, sama seperti tahun sebelumnya, semisal untuk kursi tamu kualitas murah hanya Rp 400 ribu - Rp 600 ribu per setnya, kualitas sedang Rp 1 juta-an, kualitas mahal Rp 2 juta saja.

Begitu juga dengan barang-barang lainnya, tidak ada yang harganya naik, ungkapnya.

Kenaikan Industri

Sementara itu, tiga sektor industri yakni tekstil dan produk tekstil (TPT), makanan dan minuman (mamin), serta elektronik mengalami kenaikan penjualan sebesar 10-25 persen menjelang Lebaran. Dengan kenaikan tersebut, tiga sektor ini diperkirakan mampu meraup omzet sebesar Rp17,2 triliun.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat Usman mengatakan, meskipun tidak ada target khusus, tapi kenaikan penjualan TPT mendekati Lebaran diprediksi mampu menyentuh angka 10 persen jika dibandingkan dengan bulan biasanya. API sendiri menargetkan omzet bisa mencapai Rp4,5 triliun.

"Angka tersebut memang cukup fantastis, karena pada waktu jelang Lebaran, masyarakat terkesan mabok dalam membelanjakan uangnya," kata Ade di Jakarta, beberapa waktu lalui pada Oke Zone.

Target omzet sebesar Rp 4,5 triliun, menurut Ade, sama dengan apa yang terjadi pada tahun lalu. Sedangkan, barang-barang yang akan mengalami penjualan tertinggi di pasar yaitu polo shirt, T-shirt, dan busana muslim.

Tapi pada saat ini, kata dia, masyarakat lebih fokus ke biaya pendidikan. “Jadi uang mereka lebih disisihkan untuk masuk sekolah dan membeli buku,” ucapnya.

Menurut Ade, meskipun produk TPT impor membanjiri pasar Indonesia, tapi Ade optimis kalau produk lokal yang justru akan lebih laku dari produk impor.

Pasalnya, lanjutnya, Lebaran merupakan musiman, jadi importir tidak mempunyai waktu untuk mengimpor produknya ke Indonesia. "Tahun ini pedagang lokal akan memperoleh keuntungan," ujarnya.

Sementara itu, penjualan produk elektronik juga diprediksi akan mengalami peningkatan sebesar 10 persen menjelang Lebaran.

Ketua Electronics Marketer Club (EMC) Iffan Suryanto menuturkan, jelang Lebaran penjualan akan mengalami peningkatan sebesar 10 persen atau sekira Rp200 miliar per bulan dari penjualan per tahun Rp2,2 triliun.

Penjualan menjelang Puasa dan Lebaran, lanjut Iffan, akan didominasi oleh jenis produk home appliances, seperti lemari es, mesin cuci, oven, dan blender.

Pasalnya, barang-barang itu sangat dibutuhkan oleh konsumen pada saat Puasa dan Lebaran.
(laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita