Sabtu, 26 Mei 2012
BLH Jambi: Masyarakat Diminta Mulai Memilah Sampah
Sabtu, 04 September 2010 23:43
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 5/9 (SIGAP) - Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Jambi Rusli Kamal Siregar mengimbau seluruh masyarakat dapat memilah dan memilih antara sampah organik dan non organik yang tercecer di lingkungannya.

Menurut Rusli, pemilihan sampah ini oleh masyarakat penting guna memudahkan sistem penanganannya.

Dijelaskan Rusli, apabila dikelola dengan baik, sampah memiliki nilai potensial yang cukup tinggi, seperti mampu menyediakan lapangan pekerjaan, meningkatkan kualitas dan estetika lingkungan, serta pemanfaatan lainnya.

Namun katanya, apabila keberadaan sampah tidak dikelola dengan baik, dipastikan dapat menjadi ancaman yang serius bagi kelangsungan dan kelestarian lingkungan.

"Dalam pemanfaatan sampah organik bisa dijadikan pupuk kompos misalnya. Pupuk tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki kondisi lahan kritis, yang tentunya juga akan berpengaruh terhadap peningkatan ekonomi rakyat," Jelas Rusli.

Selain bisa mendatangkan nilai potensial, pemilahan sampah juga sangat membantu instansi dan petugas pengelola sampah di Kota Jambi, sehingga dalam penanganannya bisa lebih cepat dan efisien.

"Yang paling sederhana, bagaimana masyarakat dapat melakukan pemilahan atas sampah organik dan non organik. Artinya, kedua jenis sampah itu harus dibuang ke tempatnya dalam wadah yang berbeda," katanya.

Pemkot Jambi akan menyediakan tempat sampah yang berbeda terutama di tempat-tempat umum. Hanya saja kata Rusli, karena masih terbentur anggaran, sehingga belum dapat diwujudkan secara merata.

"Rencana tersebut sudah ada dan dikoordinasikan dengan Dinas Kebersihan. Namun, karena anggaran yang tidak mencukupi baru beberapa lokasi saja yang dibangun tempat pembuangan sampah (TPS) organik dan non organik," katanya.

Berdasarkan catatan SIGAP, hingga saat ini sampah perkotaan masih menjadi masalah serius di berbagai kota besar. Beberapa kendala yang dihadapi dalam memecahkan masalah sampah ini antara lain disinyalir karena  Pertama, masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam menciptakan kebersihan lingkungan. Hal ini terlihat dari kebiasaan
membuang sampah yang tidak pada tempatnya.

Kedua, persepsi masyarakat tentang penanganan sampah masih tertumpu pada pemerintah, padahal masalah kebersihan adalah tanggung jawab bersama antara masyarakat dengan pemerintah.

Ketiga, Terbatasnya lahan untuk pengumpulan dan pembuangan sampah akhir, serta terbatasnya dana transportasi sampah. Sementara tumpukan sampah meningkat dari hari ke hari.

Mengelola sampah pada dasarnya membutuhkan peran aktif dari masyarakat terutama dalam mengurangi jumlah timbulan sampah, memilah jenis sampah hingga berupaya menjadikan sampah menjadi lebih bermanfaat. Hal ini telah banyak dilakukan diberbagai negara yang telah maju dan berhasil.

Keberhasilan ini didukung dengan adanya kampanye yang disosialisasikan oleh pemerintah antara lain melalui konsep 3 R (Reduce, Reuse dan Recycle), yaitu mengurangi timbulan sampah, menggunakan kembali bahan yang berpotensi menimbulkan sampah dan mendaur ulang sampah baik sampah organik (sisa makanan, sayuran, buah-buahan atau hijauan lainnya) maupun sampah non organik (potongan kaca, kertas, logam, plastik, karet dan bahan non organik lainnya). (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita