Sabtu, 26 Mei 2012
Sampah Mulai Cemari Tepian Danau Poso
Jumat, 03 September 2010 17:37
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 3/9 (SIGAP) -  Tepian Danau Poso kini tampak mulai tercemar sampah rumah tangga akibat semakin padatnya bangunan rumah penduduk terutama di mulut Sungai Poso di Kota Tentena, Kecamatan Pamona Utara, Sulawesi Tengah. Sampah-sampah  rumah tangga kini makin banyak mengalir ke Sungai Poso yang airnya bersumber dari Danau Poso itu karena dibuang oleh pemilik rumah di pinggir sungai dan danau.

Di Kelurahan Sangele dan Kelurahan Tentena tampak mulai dipenuhi dengan bangunan tempat tinggal yang pondasinya menyentuh sungai dan mengganggu arus air sungai yang mengalir sampai ke laut di Teluk Tomini.

Tio Lemba, salah seorang staf Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Poso mengatakan, pemerintah sebenarnya melarang pembangunan di tepi danau dan mulut Sungai Poso itu namun larangan itu rupanya tidak dipedulikan warga. Namun ia tidak mengetahui persis apakah bangunan rumah permanen di pinggir sungai itu memiliki ijin membangun atau tidak.

Sementara di tepi Danau Poso tepatnya di belakang Universitas Kristen Tentena, tampak sejumlah bangunan rumah permanen mulai berdiri megah meski kawasan itu seharusnya menjadi daerah bebas bangunan.

Robert Rombot, salah seorang aktivis lingkungan dari Yayasan Panorama Alam Lestari (YPAL) yang peduli terhadap perlindungan Danau Poso mengatakan, jika mengacu pada peraturan daerah Nomor 15 tahun 1986 tentang perlindungan kawasan danau, kawasan tepian danau merupakan kawasan hijau. "Artinya tidak boleh ada bangunan di sepanjang tepi danau," ujarnya. Dalam peraturan daerah ini, lanjut Robert, bangunan yang hendak didirikan minimal berada 100 meter dari tepi danau.

Pencemaran danau tersebut juga dicemaskan oleh Dr Ahmad Barizi, pemerhati lingkungan. “Semestinya, Pemkot setempat bertindak tegas. Misalnya,  melarang  masyarakat sekitar membuang sampah dan mendirikan bangunan di pinggiran danau,” katanya kepada SIGAP, Jumat (3/9).

Bila hal itu dibiarkan, lanjut dosen UIN Maulana Malik Ibrahim di Malang, Jawa Timur ini, akan mengganggu siklus alam. “Bahkan tidak mustahil menimbulkan bencana,” katanya. Padahal, danau tersebut adalah aset pariwisata daerah.

Oleh karena itu, kata Barizi, sapaan akrab Ahmad Barizi, pendidikan lingkungan hidup sangat mendesak disosialisasikan dan diimplementasikan kepada warga masyarakat. “Ini lebih efektif untuk mencegah secara dini datangnya bencana,” kata Barizi. (laporan Sofyan Badrie/ant)

 

Arsip Berita