Sabtu, 26 Mei 2012
Gempa 2,4 di Tegal, Dirasakan di Semarang
Jumat, 03 September 2010 17:14
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 2/1 (SIGAP).  Ratusan warga di Kecamatan Bawen, Semarang, Kamis (2/9/2010) sekitar pukul 18.30 berhamburan keluar rumah karena panik akibat guncangan gempa sekitar 5 detik.

Warga Perumahan Ambarawa Asri Kelurahan Bawen, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, Dawud Yustono, mengatakan, saat berada di rumah, tiba-tiba getaran besar muncul sekitar 5 detik. Barang-barang yang ada di sekitar rumahnya juga bergoyang-goyang.

"Begitu terjadi guncangan, kami langsung keluar rumah karena takut kalau rumah kami roboh," katanya.

"Malam ini saya akan tidur di lantai saja. Saya masih trauma jika terjadi gempa susulan," katanya.

Warga Kelurahan Gondoriyo, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Siti Khitijah (35), mengatakan, dirinya juga merasakan getaran tersebut.

"Ketika saya sedang duduk-duduk, tiba-tiba kursi yang saya duduki goyang-goyang sendiri," katanya.

Meski sempat panik akibat merasakan getaran gempa, perlahan-lahan kekhawatiran warga pulih.

Kepala Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Banjarnegara Ahmad Lani mengatakan, gempa yang dirasakan warga di Kabupaten Semarang merupakan gempa tektonik dengan kekuatan 2,4 SR. Gempa berada di utara Tegal dengan lokasi 6,58 LS-108,97 BT dan kedalaman 10 kilometer.

‎Dengan skala gempa kecil, namun bisa begitu terasa, menurut  DR Wahyu Triyoso, staf pengajar ITB, hal yang perlu dipahami adalah jajaran Jawa Barat sampai Jawa Tengah merupakan reional vulkanik yang akan didominasi oleh geometry cekungan dengan sedimentasi soft material.

"Gelombang seismik yg digenerate oleh gempa bumi most likely akan mengalami amplify karena fenomena standing wave," jelasnya.

Kita tetep mengklasifikasikan gempa dg magnitud  2.4 sebagai gempa kecil. Effect penjalaran gelombang ke daerah yg bisa menimbulkan trapping dan munculnya fenomena standing wave yang harus dipetakan secara detail.

"Pekerjaan ini masuk dalam wilayah micro zonasi sehingga site effect bisa di capture lebih detail. Ini harus jadi agenda kerja propinsi. Terutama di Jawa Barat dan Jawa Tengah termasuk Yogjakarta,"pungkasnya.  (laporan wa prasetya)

 

Arsip Berita