Sabtu, 26 Mei 2012
BI Solo: Penyaluran KUR Meningkat Paska Addendum II
Rabu, 01 September 2010 15:02
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 30/8 (SIGAP) -  Awal mula dikeluarkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada tahun 2007 kurang menggembirakan. “Karena terkait dengan ketentuan penerima KUR adalah  UMKM yang belum pernah punya hutang di bank.  Untuk nyari orang yang belum pernah berhutang ke bank itu sulit sekali,”kata Hugo Budi Hartoko, Analis Muda Senior Kelompok Pemberdayaan Sektor Riil dan UMKM Bank Indonesia (BI) Solo, kepada Sigap, Rabu (25/8) di Solo.

Setidaknya, hampir semua orang memiliki kartu kredit di bank, leasing, dan lain semacamnya. Jadi, sangat sulit untuk mencari orang yang tidak punya hutang di bank. Namun, sejak 12 Januari tahun 2010, kata Hugo, sapaan akrab Hugo Budi Hartoko, ketentuan tersebut diamandemen. Tepatnya, perubahan nota kesepahaman Bersama (MoU) tentang Penjaminan Kredit/Pembiayaan kepada UMKM & Koperasi tanggal 9 Oktober 2007 terhadap Addendum II MoU tanggal 12 Januari 2010. Jadi, bila pihak UMKM memiliki kartu kredit, KPR, leasing, diperbolehkan memperoleh KUR.

Dengan peraturan baru ini, lanjut Hugo, otomatis, penyaluran dana KUR meningkat. Di Solo, hingga bulan Juli 2010, sekitar  45,403 debitur, yang dibiayai oleh bank-bank penyalur KUR . sebelum amandemen ada 6 bank penyalur dana KUR. Setelah amandemen bertambah satu bank, yaitu Bank Jateng. Jadi keseluruhannya ada 7 bank penyalur dana KUR.

Sementara bagi debitnya 233 milyar. “Tentunya sudah ada yang lunas. Kalau dihitung dengan yang disalurkan sudah lebih dari ini,”kata Hugo. Sementara di Jawa Tengah, pada Juli 2010, realisasi KUR mencapai 393 triliun. Sedangkan debiturnya 674.788.

Khusus di Jawa Tengah, visi dan misinya adalah balik ndeso bangun deso. Dan di sini telah dibentuk tim Monitoring KUR. “Setiap triwulan kita mengadakan evaluasi,”imbuh Hugo. Dari evaluasi tersebut, ternyata dari sembilan sektor yang dibiayai dan KUR, sebanyak 78% atau sekitar 2,6 trilliun, tersalurkan pada jasa dan perdagangan.  Namun di masa mendatang, diharapkan dana KUR menyentuh sector pertanian. “Ini harapan pemerintah Jateng,”kata Hugo.

Masalah pelaksanaan KUR juga diutarakan oleh Saptono, dari Bank Indonesia Solo. “Pada tahun 2009 KUR mengalami kelambanan dibandingkan tahun  2010. Data outstanding credit akhir 2009 hingga hingga Juli 2010, ada pertumbuhan 120%. Jumlah debitur dari akhir 2009 hingga Juli 2010, pertumbuhannya 35%.  Padahal akhir 2008 ada kelambanan. Adanya amandemen pada 12 January 2010 berdampak pada peningkatan realisasi KUR,”kata Saptono.

Sementara itu, Hadi Utomo, Asisten Manager Mikro Kantor Cabang BRI di Jl Slamet Riyadi, Solo,  mengutarakan bahwa realisasi KUR pada Juli 2010 sebesar 41,375,827,400. Sedangkan dana KUR yang beredar (outstanding credit) sebesar 13,851,752,099 (Laporan Sofyan Badrie)

 

Arsip Berita