Jumat, 25 Mei 2012
SKPD Rumpun Hijau di NTB Bertekad Tekan Kekurangan Gizi
Rabu, 25 Agustus 2010 07:53
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 25/8 (SIGAP) - Satuan kerja perangkat daerah kategori rumpun hijau di lingkup Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bertekad menekan angka kasus kekurangan gizi sehingga tidak mengarah kepada kasus gizi buruk.

Demikian dikatakan Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) NTB Hj. Husnanidiaty Nurdin, di Mataram, Rabu (25/8).  "Kami bertekad menurunkan angka kasus kekurangan gizi di daerah ini dengan meningkatkan koordinasi khususnya dinas rumpun hijau," kata Husnanidiaty.

Dijelaskan, satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang dikategorikan rumpun hijau adalah Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, BKP, Kehutanan dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTB.

Dikatakan Husnanidiaty, seluruh lembaga itu sebagai sektor terdepan di bagian hulu yang bertugas menangani masalah kerentanan gizi masyarakat yang biasanya terjadi karena faktor kesulitan pangan.

Seluruh lembaga ini juga diarahkan untuk memperkuat jalinan koordinasi hingga tingkat kabupaten/kota terkait dengan upaya menuju ketersediaan pangan di daerah, terutama yang dihasilkan dari komoditas pertanian.

Dengan tepernuhinya cadangan pangan di berbagai wilayah di NTB, kata Husnanidiaty, diharapkan akan mampu menekan angka kasus kekurangan gizi yang hingga Juli 2010 sudah mencapai 319 kasus yang terdiri atas 207 kategori nonklinis dan 112 kategori klinis. Dari seluruh kasus yang dinyatakan klinis, sebanyak 27 dinyatakan gizi buruk.

Namun dirinya menjelaskan, kasus kekurangan gizi yang ditemukan hingga Juli 2010 tersebut turun dibandingkan periode sama pada 2009 sebanyak 500 kasus

Oleh sebab itu, kata Husnanidiaty, pihaknya bersama dengan SKPD lainnya berupaya mempermudah akses pangan terutama di daerah-daerah yang dinilai rentan terjadinya kasus kekurangan gizi.

"Masalah kerentanan pangan, SKPD lingkup rumpun hijau punya tanggung jawab. Tetapi kalau sudah sampai pada kasus gizi buruk yang akan terlibat juga Dinas Kesehatan sebagai sektor terdepan,"di bagian hilir," katanya.

Husnanidiaty berharap seluruh masyarakat NTB ikut terlibat dalam upaya menekan kasus kekurangan gizi, sehingga tidak sampai muncul kasus gizi buruk. "Namun bagaimana pun pemerintah tidak bisa berjalan sendiri tanpa peran masyarakat," katanya.

Berdasarkan catatan SIGAP, penyakit kurang gizi paling banyak menyerang anak balita, terutama di negara-negara berkembang. Gejala kurang gizi ringan relatif tidak jelas, hanya terlihat bahwa berat badan anak tersebut lebih rendah dibanding anak seusianya. Rata-rata berat badannya hanya sekitar 60-80% dari berat ideal.

Adapun ciri-ciri klinis yang biasa menyertainya antara lain, kenaikan berat badan berkurang, terhenti, atau bahkan menurun; Ukuran lingkaran lengan atas menurun; maturasi tulang terlambat; rasio berat terhadap tinggi, normal atau cenderung menurun dan tebal lipat kulit normal atau semakin berkurang. (laporan ari prahasta/ant)

 

Arsip Berita