Jumat, 25 Mei 2012
Lampung Barat: Petani Kembangkan Tanaman Alpukat
Selasa, 24 Agustus 2010 03:29
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 24/8 (SIGAP) – Sejumlah petani di Lampung Barat kembangkan tanaman alpukat karena dinilai mampu meningkatkan pendapatan.

Demikian dikatakan Darsono (49) petani di Pekon (Desa) Pagar Dewa, Kecamatan Sukau, Lampung Barat, sekitar 285 kilometer dari Bandarlampung, Selasa (24/8).  Menurut Darsono, dirinya sudah melakukan pembibitan alpukat sejak empat bulan lalu, dan bulan ini sudah siap di tanam. “Saya mengembangkan tanaman alpukat karena tanaman ini mampu menghasilkan buah berlimpah," katanya

Dijelaskan Darsono, petani dapat panen alpukat hingga 2 kali dalam setahun, apalagi saat puasa permintaan buah tersebut terus meningkat, dan harganya pun kian naik.

Sementara itu, petani lainnya, Sumitro menuturkan, tanaman alpukat dapat berkembang pesat Lampung Barat karena suhu udara di daerah tersebut agak dingin dengan curah hujan lebih banyak sehingga semakin menyuburkan tanah.

"Buah alpukat di daerah kami besar dan dagingnya tebal, sehingga banyak petani yang melirik untuk menanamnya. Apalagi tanaman ini sifatnya tahunan sehingga tinggal memerlukan perawatan," katanya.

Sementara itu, program yang dicanangkan Pemkab Lampung Barat untuk lebih menggiatkan tanaman tersebut salah satunya akan menyalurkan bantuan bibit alpukat pada sejumlah kelompok tani.

Program pengembangan tanaman buah alpukat yang dilakukan pemkab mendapat penilaian positif dari warga sebagai. Dan pemkab nampaknya serius untuk menjadikan Lampung Barat sebagai daerah sentra buah alpukat terbaik.

Buah alpukat yang dihasilkan di Lampung Barat tergolong memiliki mutu yang baik, selain besar, dagingnya juga tebal dan memiliki rasa manis, sehingga potensi buah alpukat dari Lampung Barat sebagian besar dipasok ke beberapa daerah diantaranya Jakarta dan Pulau Jawa.

Saat ini Lampung Barat sedang melakukan panen buah alpukat, biasanya petani mengumpulkan buah alpukat untuk dijual pada agen pengumpul dengan sistem borongan juga kiloan, saat ini harga alpukat mentah tingkat petani mencapai Rp2.500 perkilo, sedangkan untuk hitungan borong, agen pengumpul melihat besar kecilnya buah, sekaligus jumlah buah yang ada di pohon.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman pangan dan Holtikultura Kabupaten Lampung Barat, Novriardi Kuswan mengatakan, pemkab akan menggencarkan komoditas alpukat.

"Dalam waktu dekat ini kami terus berupaya memsosialisasikan manfaat tanaman buah yang mampu menghasilkan pendapatan berlimpah, salah satunya tanaman alpukat," kata Kuswan.

Berdasarkan catatan SIGAP seperti yang dilansir laman Dinkes Kota Banjarbaru, disebutkan bahwa buah alpukat atau avokad memiliki kandungan nutrisi yang sangat tinggi. Buah alpukat mengandung 11 vitamin dan 14 mineral yang bermanfaat.

Alpukat kaya akan protein, riboflavin (atau dikenal sebagai vitamin B2), niasin (atau dikenal sebagai vitamin B3), potasium (atau lebih dikenal sebagai kalium), dan vitamin C.

Selain itu, alpukat mengandung lemak yang cukup tinggi. Namun jangan takut karena lemak pada alpukat mirip dengan lemak pada minyak zaitun yang sangat sehat. Lemak yang dikandung dalam alpukat adalah lemak tak jenuh yang berdampak positif dalam tubuh. Lemak pada alpukat juga digunakan dalam pembuatan sabun dan kosmetik.

Dalam bidang kecantikan, buah alpukat juga sering digunakan sebagai masker wajah. Buah ini dianggap mampu membuat kulit lebih kencang. Buah alpukat juga bermanfaat untuk perawatan rambut misalnya sewaktu melakukan creambath.
Selain itu, sebagai buah, alpukat juga tentu bisa dinikmati sebagai hidangan yang lezat. Berbagai hidangan disajikan dengan menambah alpukat sebagai bagian dari hidangan.

Sejarahnya, buah alpukat berasal dari bahasa Aztek yaitu ahuacatl. Buah ini memang berasal dari daerah tempat suku Aztek berasal, yaitu di daerah Amerika Tengah dan Meksiko.

Awalnya buah ini mulai diperkenalkan oleh Martín Fernández de Enciso, salah seorang pemimpin pasukan Spanyol, pada tahun 1519 kepada orang-orang Eropa. Pada saat yang sama juga, para pasukan Spanyol yang menjajah Amerika Tengah juga memperkenalkan coklat, jagung dan kentang kepada masyarakat Eropa. Sejak itulah buah alpukat atau avokad mulai disebar dan dikenal oleh banyak penduduk dunia, termasuk Indonesia. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita