Jumat, 25 Mei 2012
Lumajang: Anomali Cuaca Tak Pengaruhi Target Produksi Padi
Sabtu, 21 Agustus 2010 07:54
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 21/8 (SIGAP) - Kepala Dinas Pertanian Lumajang, Jawa Timur, Imam Suryadi menyebutkan anomali cuaca tidak mempengaruhi secara signifikan target produksi padi tahun 2010 di Kabupaten Lumajang.

"Saya optimistis target produksi padi di Lumajang sebesar 399 ribu ton dapat tercapai, meski sebagian lahan pertanian terserang hama penyakit," kata Imam Suryadi di Lumajang, Sabtu.

Imam menambahkan, anomali cuaca berpengaruh pada pola tanam dan lahan pertanian mudah terserang penyakit seperti batang penggerek dan tungro.

"Luas lahan pertanian di Lumajang yang terserang hama penyakit sekitar 40-50 hektare, namun hal itu sudah bisa dikendalikan oleh petani dan petugas penyuluh lapangan," jelasnya.

Pada pertengahan Juni 2010, lanjut Imam, sebanyak 50 hektare lahan pertanian di Desa Krai, Kecamatan Yosowilangun terserang hama penggerek batang, namun jumlah tersebut merupakan "spot" dengan luasan yang kecil.

Imam menambahkan, selain hama penggerek batang, serangan hama tungro dan tikus juga rentan menyerang lahan pertanian pada perubahan cuaca yang tidak menentu seperti ini.

Luas lahan pertanian di Kabupaten Lumajang sebesar 74 ribu hektare, sehingga puluhan hektare lahan pertanian yang terserang hama wereng tidak berpengaruh secara signifikan terhadap produksi padi di Lumajang tahun 2010.

Namun pihaknya mengimbau kepada petani supaya lebih waspada terhadap serangan hama sejak awal karena penggerek batas biasanya menyerang pada saat proses penyemaian benih.

"Apabila tidak diatasi sejak dini, maka hama penggerek batang dapat berpengaruh pada pertumbuhan padi hingga produksi padi," katanya.

Ditambahkan Imam, Dinas Pertanian Lumajang menyiapkan bantuan bibit cadangan, apabila lahan pertanian terserang hama penyakit secara massal.

"Saya imbau petani untuk menggunakan bibit padi varietas unggul, sehingga tahan terhadap serangan hama dan penyakit," jelasnya.

Sementara itu, panen raya di Kabupaten Lumajang diprediksi pada bulan Oktober-November mendatang, sehingga petani harus melakukan pemantauan secara rutin, agar hasil produksi padi melimpah dan tidak puso.

Berdasarkan catatan SIGAP, anomali cuaca berupa curah hujan di atas normal pada musim kemarau ini akan berlangsung hingga November. Hal ini merupakan dampak memanasnya suhu muka laut di wilayah Indonesia dan adanya fenomena La Nina di Samudra Pasifik.

Selain itu, munculnya angin timur hingga Oktober juga menyebabkan naiknya gelombang laut di selatan Jawa dan Laut Arafuru.

Menurut penjelasan Endro Santoso, Kepala Bidang Informasi Klimatologi dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), beberapa waktu lalu, La Nina yang ditunjukkan oleh mendinginnya suhu muka laut di Pasifik Tengah saat ini meningkat dari kondisi lemah pada bulan lalu menjadi ke tingkat moderat atau sedang.

Hal ini berdampak pada naiknya aliran massa udara dari kawasan Pasifik ke wilayah Indonesia hingga mengakibatkan banyak hujan. (laporan rusman/ant/ko)

 

Arsip Berita