Jumat, 25 Mei 2012
Ribuan Nelayan Sumut Takut Melaut
Sabtu, 21 Agustus 2010 05:28
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 21/8 (SIGAP) - Ribuan nelayan tradisional di Sumatera Utara, selama dua pekan terakhir ini takut melaut karena ombak cukup besar dan sangat membahayakan keselamatan mereka.

Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Sumatera Utara, Ihya Ulumuddin, di Medan, Jumat (20/8) mengatakan, ketinggian ombak di laut itu mencapai 2 hingga 3 meter.

Dengan ketinggian ombak seperti itu, tidak hanya dapat menenggelamkan perahu yang digunakan nelayan tradisional, tetapi bisa juga menyeret nelayan tersebut hingga ke perairan Australia, Afrika, Malaysia, dan Thailand, katanya.

Menurutnya, ombak besar yang dikenal cukup ganas itu sering terjadi di pantai barat Sumatera dan perairan lepasnya di Samudra Hindia.

Wilayah yang masuk ke pantai barat Sumatera itu yakni Pulau Nias, Madina, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Sibolga.

Sementara itu, wilayah yang masuk ke Pantai Timur, Asahan, Tanjung Balai, Batubara, Serdang Bedagai, Deli Serdang, Belawan dan Langkat. Perairan pantai timur berbatasan dengan Selat Malaka.

"Kalau terjadi ombak besar dan angin kencang di pantai timur itu, nelayan di daerah tersebut bisa hanyut ke Thailand, Vietnam, Malaysia, dan negara lainnya.Angin besar itu harus diwaspadai dan jangan sampai pula menelan korban jiwa," kata Ulumuddin.

Lebih jauh dirinya mengatakan, akibat nelayan itu tidak pergi menangkap ikan, kapal-kapal kayu berjejer di pinggiran pantai seperti di pantai Pandan, Sibuluan di Tapanuli Tengah.

Fenomena atau pemandangan yang seperti ini, tidak hanya merugikan kehidupan nelayan itu, tetapi juga membuat mereka semakin malas, disebabkan terlalu lama tak bekerja alias menganggur.

"Nelayan yang tidak memiliki uang, banyak yang meminjam uang juragan atau toke ikan, sehingga mereka terlilit utang. Nelayan ada juga menjual perlengkapan rumahnya, karena butuh uang untuk beli beras dan keperluan lainnya untuk anak-anak," katanya.

Oleh karena itu, katanya, untuk membantu nelayan yang tidak pergi ke laut, maka pemerintah perlu mencari solusi, agar nelayan itu jangan terus dibiarkan begitu saja.

"Pemerintah perlu juga memerhatikan kehidupan nelayan di Sumut.Nelayan di daerah itu miskin, anak mereka juga banyak yang tak bersekolah, karena tidak ada uang," kata Ulumuddin.

Sebelumnya, Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Wilayah I Medan mengimbau kepada masyarakat Sumatera Utara agar waspada terhadap angin kencang dan petir yang terjadi selama bulan Agustus 2010.

Kepala Bidang Data dan Informasi Balai Besar, Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan, Hendra Suwarta, Jumat, mengatakan, selama Agustus curah hujan masih cukup tinggi sehingga masyarakat perlu waspada angin kencang dan petir.

"Curah hujan yang tinggi itu terjadi disebabkan adanya tekanan rendah di Laut China Selatan yang membawa angin daratan untuk wilayah Sumatera bagian utara (Sumbagut)," katanya.

Peluang hujan itu terjadi di daerah pesisir pantai timur yang dipicu suhu permukaan laut yang masih hangat sehingga membentuk awan-awan konvektif di pantai barat dan timur Sumatera.

Daerah pantai timur yang berpeluang hujan itu, seperti di Kabupaten Labuhan Batu, Tanjung Balai dan Medan.

Sedangkan di pantai barat terjadi di daerah Sibolga dan Nias. (laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita