Jumat, 25 Mei 2012
Pengrajin Keramik Tanah Liat Sumut "Dibanjiri" Permintaan
Minggu, 15 Agustus 2010 15:19
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 15/8 (SIGAP) - Pengrajin keramik tanah liat Deli Serdang, Sumatera Utara mulai "dibanjiri" permintaan dari pedagang maupun konsumen pribadi untuk keperluan Idul Fitri tahun ini.

"Permintaan keramik terus meningkat memasuki minggu kedua Bulan Ramadhan. Selain untuk dijual lagi atau keperluan parsel, permintaan datang dari konsumen pribadi guna untuk mempercantik rumah di Idul Fitri," kata pengusaha keramik asal Tanjung Morawa, Deli Serdang, Tembikar Lestari, Irwansyah Sembiring, Minggu (15/8).

Dijelaskan Irwansyah, permintaan bukan hanya dari Sumut, tetapi pedagang atau perorangan juga dari Aceh dan Riau.

Produk yang paling laris adalah jenis pot bunga, tempat dudukan dan kendi tempat payung.

"Ada kemungkinan permintaan naik lagi memasuki minggu ketiga Ramadhan," katanya.

Meski permintaan banyak, kata Irwansyah, harga jual sulit dinaikkan karena persaingan penjualan semakin ketat menyusul semakin banyaknya pengrajin produk itu.

Harga jual yang relatif murah mulai dari Rp5.000 hingga Rp1,5 jutaan per unit serta tren aksesoris rumah ke gaya tradisional, diakui membuat daya tarik sendiri atas produk itu.

Meski persaingan ketat, kata Irwansyah, diakui juga pasar masih cukup potensial, apalagi kalau pengrajin bisa mengikuti tren, seperti saat ini yang sedang "demam" minimalis.

Potensi pasar yang masih potensial itu, kata dia, terlihat dari omset usahanya yang naik terus, di mana tahun ini sudah mencapai Rp20 juta -Rp25 juta per bulan dari tahun 2004 yang masih sekitar Rp5 jutaan.

Kepala Seksi Permodalan Subdis Usaha Kecil Dinas Koperasi dan UKM Deli Serdang, Syafii Simanjuntak, mengakui, keramik tanah liat memang menjadi salah satu andalan produk UKM kabupaten itu.

Malah sentra industri itu sudah ada di kawasan Bangun Sari, Tanjung Morawa, Deli Serdang, katanya.

Karena keramik itu menjadi salah satu andalan, maka Pemerintah Deli Serdang, juga memberikan perhatian lebih besar kepada pengrajin dan produk itu antara lain dengan memberikan bantuan permodalan dan ikut membantu mempromosikan produk tersebut.

Beberapa tahun lalu, produk keramik tanah liat itu bahkan sempat menembus Australia, tetapi karena pengrajin tidak bisa memenuhi rutin permintaan akibat banyaknya juga kebutuhan di dalam negeri, pengiriman keramik ke negara tersebut terhenti.
Ancaman Krisis Bahan Baku
Sementara itu, Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) mengirim surat kepada Pemerintah Daerah Bangka Belitung untuk menghentikan ekspor tanah liat dari wilayahnya. Pasalnya, ekspor tersebut bisa mengancam suplai bahan baku untuk industri keramik domestik.

"Setiap bulan setidaknya 50.000 ton bahan baku tanah liat diekspor ke India. Jika ini dilakukan terus menerus, dalam 5 tahun ke depan Indonesia bisa kekurangan bahan baku tanah liat," kata Ketua Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Ahmad Wijaya.

Industri keramik Indonesia memiliki peluang untuk berkembang dengan pesat. Pasalnya, disamping memiliki pangsa pasar yang luas di pasar domestik maupun ekspor, industri keramik di Indonesia juga memiliki bahan baku yang melimpah.

Indonesia memiliki sumber deposit bahan baku untuk industri keramik dalam jumlah yang cukup besar. Sebut saja, untuk bahan baku tanah liat (clay) di beberapa daerah seperti Bangka Belitung, Lampung dan Kalimantan Barat memiliki cadangan yang cukup besar.

Berdasarkan data Asaki, bahan baku potensi bahan baku lempung di Bangka Belitung sebesar 10 juta ton, Lampung sebanyak 10 juta ton dan Monterado Kalimantan Barat sebanyak 250.000 ton.

Industri keramik nasional menghabiskan konsumsi tanah liat sekitar 100.000 ton per bulan. Total kebutuhan bahan baku industri keramik nasional sebanyak 5,375 juta ton. Rinciannya, sebanyak 2,096 juta ton berupa pasir, sebanyak 1,666 juta ton untuk tanah liat, felspar sebanyak 1,128 juta ton, kaolin 268.769 ton dan bahan baku lainnya sebanyak 215.015 seperti dilaporkan kontan online. (laporan wa prasetya/ant/ko)

 

Arsip Berita