Jumat, 25 Mei 2012
Myanmar, Gempa 4,6 SR Nicobar memberi tanda Sumatera - Jawa
Minggu, 15 Agustus 2010 14:40
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 15/8 (SIGAP) - Dalam satu sampai tiga hari kedepan, kawasan Sumatera dan Jawa kembali mendapat tanda kemungkinan adanya rambatan gempa. Pemicunya, seperti biasa, kalau bukan kawasan Xixang, Myanmar, tentu gempa di Kepulauan Andaman-Nicobar.

Usai sholat subuh, 15 Agustus 2010, tepatnya pukul 05:56:35 WIB, gempa berkekuatan 4,6 SR mengguncang Kepulauan Nicobar – Andaman. Tepatnya pada posisi 7,86 Lintang Utara 94,59 Bujur Timur. Posisi gempa berada di Utara Sumatera.

Walau gempa kali ini skalanya dibawah 5 SR, namun yang patut diwaspadai, kedalaman gempa ini diatas 100 km, tepatnya pada kedalaman laut 204 km.  Sekedar catatan, sebelum terjadi gempa Padang, 30 September 2009, kawasan Andaman-Nicobar diguncang gempa dengan kedalaman 181 km. Pada statistik gempa, sejak tahun 2004, hanya ada 7 kali gempa berkedalaman diatas 125 km dan 5 kali menimbulkan gempa besar dan 2 kali berada pada kisaran 5 SR.

Memang penduduk di Sumatera dan Jawa perlu selalu waspada terhadap ancaman gempa. Apalagi, hampir sebagian besar wilayah Indonesia belum memiliki peta mikrozonasi gempa.

Menurut Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB), Andi Arief, kemajuan bidang peramalan gempa selayaknya disikapi pemerintah daerah yang mengalami peningkatan potensi gempa, seperti Jakarta dan Surabaya. Caranya, buat peta mikrozonasi gempa.

Peta seismic hazard 2010 yang disusun 9 ahli gempa Indonesia menunjukkan, Jakarta mengalami peningkatan percepatan batuan dasar. Beberapa daerah lain seperti Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang juga mengalami hal serupa.

Andi menyebutkan, jika pemerintah daerah mau memulai riset mikrozonasi gempa, potensi gempa di tiap kota itu dapat dipetakan dengan lebih baik. Peta mikrozonasi gempa akan menjadi panduan untuk mitigasi dan antisipasi gempa, sehingga kerusakan besar seperti pada gempa di Mexico City 1985 dapat dihindari.

Seperti diketahui, gempa Mexico City berskala 8,1 SR, menewaskan 9,500 orang, mencederai lebih dari 30,000 orang serta membuat 100,000 lainnya kehilangan tempat tinggal. Di samping itu, 412 bangunan roboh dan sekitar 3.200 lainnya rusak parah.

Kata Andi, peta mikrozonasi harus diikuti emergency plan. Soalnya, Jakarta dan Surabaya, misalnya, memiliki banyak fasilitas dan gedung gedung vital, sehingga perlu mempersiapkan langkah-langkah darurat.

Beberapa kota besar di dunia seperti Tokyo, Ankara, dan Manila, telah memiliki peta mikrozonasi gempa semacam ini. Kota Metropolitan seperti Jakarta dan Surabaya, selayaknya memprioritaskan riset mikrozonasi itu, khususnya untuk mengetahui sejauhmana kelabilan tanah di kota-kota tersebut.

Kembali pada soal rambatan gempa, politikindonesia.com, pada tanggal 7 Agustus merilis berita berjudul: Agustus: Waspadai Gempa Sumatera. Informasi yang diungkapkan adalah ketika pada 6 Agustus 2010, pukul 01.18 WIB, terjadi gempa bumi di Myanmar (Utara Sumatera) dengan kekuatan 5 SR pada kedalaman 33 km, oleh Didik Wahju Widjaja, melalui situs pribadinya, Richocean Indonesia Blog, yang dilink oleh situs sigapbencana-bansos.info, melansir perkiraan tentang rambatan gempa tersebut berdasarkan statistika.

Saat itu, alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengingatkan tentang kemungkinan dalam 1-3 hari kedepan, akan terjadi pelepasan rambatan gempa di kawasan  Sumatera - Jawa.

Rambatan gempa Myanmar, bisa jadi pada antara 18-24 Agustus untuk kawasan  Utara Sumatera (Aceh, Simeulue, Nias, Medan, Pariaman). Pusat gempa berjarak sekitar 500 km dari kota Medan. Kekuatannya berkisar antara 3,8 hingga 5,8 SR.

Pada 13-19 Agustus kemungkinan terjadi gempa yang berjarak 500 km dari Lubuk Tanjung (Mentawai, Pariaman, Padang, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan) dengan kekuatan 5,9 hingga 7,9 SR.

Sementara antara tanggal 16-22 Agustus kemungkinan terjadinya gempa yang berjarak  450 km dari pusat gempa (Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat) Kekuatan yang diperkirakannya adalah 4,6-6,6 SR .

Bila kita mencermati kemungkinan terjadinya rambatan gempa diatas, tingkat akurasinya cukup tinggi. Sayangnya, publikasi dan sosialisasi yang dilakukan melalui jejaring dunia maya, kurang mendapat perhatian. Seandainya saja, sejak awal kita tahu dan peduli dengan perkiraan yang dilakukan, setidaknya minimalisasi korban, khususnya jiwa dapat dilakukan.

Apa yang terjadi atas ramalan soal rambatan gempa Myanmar kemudian?

Pada Kamis (12/08), pukul 02.10 WIB gempa berkekuatan 5,8 SR mengguncang Sukabumi, Jawa Barat. Pusat gempa berada pada 125 kilometer Barat Daya Sukabumi.

Setelah terjadi gempa Sukabumi, Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Erick Ridzky yang dihubungi politikindonesia.com dini hari mengingatkan adanya potensi gempa susulan dan rambatan gempa dalam 1 – 2 hari kedepan. Rambatannya dimungkinkan sampai ke Selat Sunda, Ujung Kulon, Selatan Sumatera, hingga Bengkulu.

Nah, pada Sabtu (14/08) pukul 08.32 WIB terjadi gempa laut berkekuatan 5 SR di kawasan Ujung Kulon. Tepatnya, terjadi pada  7.47 Lintang Selatan dan 105.89 Bujur Timur dengan kedalaman 37 kilometer. Atau berada pada 86 km Tenggara Ujungkulon-Jabar, 129 km Barat Daya Sukabumi-Jabar, 171 km Barat Daya Merak-Banten, 178 km Barat Daya Jakarta.

Siang harinya, pukul 12.14 WIB gempa berkekuatan 3,5 SR dengan kedalaman 10 km. Pusat gempa berada (darat) di 39 km  Barat Laut Bandung. Tepatnya pada 6,64 Lintang Selatan 107,38 Bujur Timur. Getarannya dirasakan di Purwakarta dan Cianjur.

Malam harinya, pukul 20:37:52.1 WIB terjadi gempa berkekuatan 4,8 SR di Bengkulu, Selatan Mentawai. Tepatnya pada 3,98 Lintang Selatan 100,48 Bujur Timur dengan kedalaman laut 12 km.

Bila kemungkinan terjadinya  rambatan gempa yang dilakukan Didik, dikompilasi dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh pakar gempa dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman. Khususnya tentang gempa di Sumatera dan Jawa, maka semakin meyakinkan kita. Setidaknya untuk kewaspadaan menghadapi bencana gempa. Tampaknya disinilah letak, betapa pentingnya disetiap daerah rawan gempa memiliki peta mikrozonasi.

Seperti yang dilansir politikindonesia.com sebelumnya, tampaknya lapisan bumi kita, diurai dalam beberapa lempeng. Khususnya untuk lempeng yang merupakan rantai gempa. Ibarat mainan anak-anak di Taman Kanak-kanak  “enjotan”, bila di ujung satu bergerak, maka ujung lainnya pun akan bergerak.

Untuk menyibak rantai gempa di Sumatera, melalui laman pribadinya, Didik melakukan kajian statistika terhadap data-data gempa bumi di dunia, khususnya yang berkaitan dengan lempeng  gempa bumi di Sumatera - Jawa.

Dari hasil pemrosesan data gempa  selama tahun 2004 hingga  Juli 2010, dalam rantai gempa bumi yang menggoyang Sumatera - Jawa, sudah terjadi 3.361 kali gempa.

Dari kajian data-data tersebut, diperoleh bahwa Sumatera- Jawa Barat dijepit dan dikepung oleh gempa tetangganya yang berada di Utara Sumatera. Yakni Xizang, Myanmar, Andaman, Nicobar, dan Samudra Hindia. Hampir tak ada hari yang kosong bagi kawasan tersebut, untuk “menyiapkan”  energi guna menggoyang bumi Sumatera - Jawa.

Bila dicermati lebih dalam, maka terlihat adanya kaitan sangat erat antara gempa Selatan Sumatera dan gempa Jawa. Jika di Selatan Sumatera gempa, maka dapat diikuti gempa Jawa. Demikian sebaliknya, jika di Jawa gempa maka dapat diikuti gempa Selatan Sumatera. Hanya saja, tetap perlu diperhatikan secara cermat tentang kondisi kegempaan di masing-masing wilayah guna memastikan apakah akan pasti diikuti gempa atau tidak. Disinilah letak arti pentingnya peta mikrozonasi gempa, khususnya di setiap wilayah yang berada pada garis sesar gempa.

 

Arsip Berita