Jumat, 25 Mei 2012
Yogyakarta Berpotensi Menjadi Pusat Industri Animasi Nasional
Minggu, 15 Agustus 2010 14:32
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 15/8 (SIGAP) - Yogyakarta memiliki potensi untuk menjadi pusat industri film animasi nasional karena memiliki sumber daya manusia yang berkualitas di bidang tersebut.

"Yogyakarta memiliki potensi luar biasa untuk menjadi pusat industri film animasi di Indonesia," kata Direktur JogjAnimation Hanitianto Joedo di Yogyakarta, Minggu (15/8).

Dirinya mengatakan, saat ini di Yogyakarta ada sekitar 20 studio animasi yang aktif memproduksi film-film animasi dengan kualitas yang patut diperhitungkan dalam skala nasional.

"Bahkan karya-karya mereka mulai dikenal di negara-negara tetangga, terbukti dengan datangnya pesanan dari Singapura dan Malaysia," katanya.

Namun menurut Hanitianto penggiat animasi di Indonesia terutama di Yogyakarta menghadapi masalah utama yaitu minimnya media untuk menampilkan karya animasi yang dihasilkan oleh animator.

"Masih sedikit produser film nasional yang mau berinvestasi membuat film animasi karena biaya pembuatan film animasi memang lebih tinggi dibandingkan biaya membuat film konvensional," katanya.

Selain itu Hanitianto mengatakan, stasiun televisi nasional juga lebih tertarik dengan produk animasi luar negeri yang harganya lebih terjangkau karena produk tersebut dijual secara massal di seluruh dunia.

"Kendala lainnya adalah pola pikir masyarakat yang beranggapan bahwa film animasi hanya patut dikonsumsi oleh anak-anak, artinya animasi di Indonesia belum dipahami secara utuh," katanya.

Hanitianto mengatakan Indonesia bisa mencontoh Malaysia yang populer dengan animasi Upin dan Ipin. "Mereka bisa berjaya karena menampilkan gambaran yang sederhana tetapi dengan tema yang dekat dengan keseharian. Selain itu mereka juga mendapat dukungan dari masyarakat," katanya.

Seperti disampaikan presiden pada pameran inacraft tahun lalu, Kontribusi industri kreatif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia makin lama makin signifikan. Tercatat, kontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian adalah 6,3% untuk industri kreatif, dan 30% dari itu berasal dari kerajinan, atau tumbuh 1,8%.

Dikatakan, jumlah industri kreatif sekitar 2,2 juta dan industri kerajinan, handicraft, sekitar 700 ribu. Dari jumlah industri itu, mampu menyerap tenaga kerja. Untuk industri kreatif, sekitar 5,4 juta tenaga kerja dan kemudian untuk industri kerajinan menyerap 1,8 juta. Tentu saja, statistik itu amat penting untuk memastikan bahwa dengan berkembangnya industri kreatif dan kerajinan, bukan hanya ekonomi kita makin tumbuh tetapi lapangan kerja makin tercipta, dan dengan demikian kemiskinan akan terus dapat kita turunkan, pembangunan akan lebih adil dan merata di seluruh wilayah Indonesia. (laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita