Jumat, 25 Mei 2012
Bangka: 30 Warga Miskin Dapat Bantuan
Minggu, 15 Agustus 2010 05:11
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 15/8 (SIGAP) – Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2010 oleh Pemerintah Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung dilakukan dengan memberikan bantuan kepada 30 warga miskin.

Kepala Seksi Kelembagaan dan Kemitraan Sosial Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Bangka Gulyono Penalva di Sungailiat, Sabtu (14/8) mengatakan bantuan ini diberikan oleh Pemprov Babel dengan menggunakan dana APBD kepada warga yang kurang mampu yang berdomisili di Kecamatan Sungailiat.

"Untuk pendataan penerima bantuan ini, kami berkoordinasi dengan pihak kelurahan dan kecamatan," katanya.

Dalam peringatan puncak Harganas yang berlagsung di Lapangan Bina Satria Bangka itu diberikan dalam bentuk kebutuhan sehari-hari seperti beras sebanyak 10 kilogram, kacang hijau 1 kg, gula pasir 1 kg, minyak goreng satu liter dan susu satu kaleng.

"Pemberian bantuan ini telah melalui tahap pendataan yang sesuai dengan prosedur, dengan kriteria warga yang berhak menerima adalah warga yang masuk dalam program rumah tangga sasaran," ujarnya.

Menurutnya, kegiatan ini rutin dilakukan setiap tahun. Diharapkan dengan bantuan ini dapat meringankan beban ekonomi warga dalam menjalankan ibadah puasa.

"Kegiatan ini rutin kami lakukan setiap tahun untuk meringankan beban masyarakat kurang mampu, terutama selama bulan puasa," katanya.

Berdasarkan catatan SIGAP, jumlah penduduk miskin Indonesia kini mencapai lebih dari 31 juta jiwa, atau turun dari jumlah yang sama pada Maret 2009, demikian data BPS.

Meski turun, persentase penurunan tipis, yaitu hanya sekitar 1,5 juta jiwa.

Ini berarti persentase warga miskin masih di atas 13 %, atau masih di atas target 11% yang ditetapkan pemerintah.
Ketua BPS Rusman Heriawan mengatakan, jumlah penduduk miskin turun lebih rendah dibanding penurunan Maret 2008-2009, yang mencapai 2,34 juta.

Menurut Rusman, sumbangan penurunan angka kemiskinan tahun sebelumnya antara lain disumbang oleh aliran dana Bantuan langsung Tunai BLT yang tahun lalu gencar dikeluarkan pemerintah.

Sementara setahun terakhir, turunnya jumlah warga miskin lebih banyak disumbang oleh stabilitas harga barang konsumsi yang tidak naik setinggi tahun lalu.

Jumlah penduduk miskin di Indonesia terus turun, meski tidak siginifikan sejak 2007.

Jumlah penduduk naik drastis pada tahun 1998 akibat krisis ekonomi menjadi hampir 50 juta, lalu turun dan naik lagi menjadi

hampir 40 juta tahun 2006 akibat kebijakan menaikkan harga BBM tahun 2005.

Konsumsi rokok

Untuk membedakan masyarakat miskin dan di ambang kemiskinan, BPS menggunakan acuan garis kemiskinan senilai Rp 211.176 ribu per bulan per kapita.

"Acuan ini lebih tinggi dibanding acuan tahun lalu, yang hanya Rp200.262 per bulan per kapita," tambah Rusman Heriawan.
Meski mengakui bahwa angka itu sangat kecil untuk konsumsi dalam sebulan, BPS mengatakan angka dihitung berdasarkan besaran kebutuhan tiap penduduk dari umur 0 tahun hingga dewasa.

Hal yang cukup mengejutkan adalah besarnya konsumsi rokok yang emrupakan konsumsi terbesar kedua rakyat miskin setelah beras.

"Jadi dengan pendapatan sekecil itu pun, pengeluaran untuk rokok kretek bagi warga miskin mencapai hampir 8 persen dari total pengeluarannya," kata Rusman.

Konsumsi yang lebih tinggi menyebabkan rokok menjadi prioritas yang lebih diutamakan warga miskin ketimbang hal-hal lain seperti gizi anggota keluarga maupun pendidikan. (laporan ari prahasta/ant/bbc)

 

Arsip Berita