Jumat, 25 Mei 2012
Akibat Perubahan Iklim, Produksi Ikan di Jambi Menurun
Jumat, 13 Agustus 2010 07:01
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 13/8 (SIGAP) - Perubahan iklim ekstrim yang terjadi belakangan ini menyebabkan produksi ikan segar dan ikan kering di wilayah pantai timur Provinsi Jambi menjadi terganggu dan cenderung mengalami penurunan.

Demikian dikatakan David, nelayan di Kabupaten Tanjungjabung Timur (Tanjabtim), Jambi, Jumat (13/8). David mengeluhkan, dengan adanya perubahan iklim yang ekstrim tangkapan nelayan beberapa bulan terakhir terganggu dan menurun.

Dikatakan David, pada bulan Agustus biasanya merupakan saat-saat produksi ikan laut meningkat. Hal itu karena musim kemarau membuat air di sungai dan danau surut sehingga memudahkan untuk menangkap ikan.

Memasuki bulan Agustus ini, katanya, kondisi iklim tidak bisa ditebak.

Pada bulan Agustus diperkirakan sudah masuk musim kemarau, namun pada kenyataannya hujan masih tetap terjadi bahkan dengan kapasitas yang tinggi, akibatnya kondisi air laut, sungai maupun danau selalu dalam. Belum lagi kondisi angin dan ombak di laut juga tidak menentu.

Akibatnya, proses penangkapan ikan menjadi terhambat, hal itu berdampak langsung pada suplai ikan di pasaran menjadi menipis dan gilirannya harga ikan melambung.

Sementara itu, menurut pengakuan beberapa pedagang ikan di pasar Muarasabak, rata-rata harga ikan di pasaran baik ikan laut maupun ikan tawar mengalami kenaikan. Harga ikan tawar yang biasanya dijual dengan harga Rp15 ribu per kilogram, kini bisa mencapai Rp20 ribu per kilogram.

Sementara itu, berdasarkan penelitian terbaru Organisasi Penelitian dan Industri Persemakmuran di Australia (CSIRO) menemukan bahwa perubahan iklim mempengaruhi sejumlah besar ikan ke selatan karena perairan menghangat.

Penelitian itu mengungkapkan sekitar 30%  jenis ikan di pesisir perairan Australia ditemukan di luar daerah mereka.

Organisasi itu mengidentifikasi Australia tenggara sebagai titik perubahan iklim, dan perubahan yang terdokumentasi dengan baik sudah terjadi selama lebih dari 70 tahun.

Juru bicara CSIRO, Dr.Peter Last, mengatakan rekaman mengenai penyebaran ikan pesisir telah mengidentifikasi 43 macam ikan berada di luar jangkauan normal mereka. Jenis yang sedang berpindah termasuk rock flathead, hiu macan, dan Quennsland groupers.

"Sebagai contoh, lihat saja coral trout, yang merupakan ikan yang banyak dijual dari Queensland, jauh ke selatan ke Port Arthur", kata Dr. Last kepada ABC news, Jumat.

Juru bicara komite Pengumpul Ikan Nasional CSIRO, Alistair Hobday, mengatakan efeknya tidak selalu bagus.

"Hewan ini akan berpindah lebih jauh ke selatan dan mereka tidak memiliki tempat untuk dituju ketika mereka sampai di ujung Tasmania", kata Hobday. Penelitian itu juga menemukan 19 jenis ikan perairan Tasmania mengalami penurunan serius dan sebagian mungkin punah di wilayah itu.

Hobday mengatakan jumlah ikan di temperatur hangat telah menguasai daerah yang lebih dingin, dan beberapa jenis mungkin berjuang untuk tetap hidup. (lapaoran rusman/ant)

 

Arsip Berita