Jumat, 25 Mei 2012
BGD-Mittal Bangun Pabrik Baja di Banten
Jumat, 13 Agustus 2010 02:26
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 13/8 (SIGAP) - Perseroan Terbatas Banten Global Development (BGD) bersama Arcelor Mittal--sebuah perusahaan baja dari India--akan membangun pabrik baja di Banten dan telah menetapkan Teluk Banten sebagai lokasi pembangunan pabrik.

"Studi kelayakan untuk proyek pabrik hampir selesai. Lokasi juga sudah ditetapkan, yaitu di Teluk Banten," kata Direktur Utama Banten Global Development Rudi Radjab, di Serang, Banten, Kamis (12/8).

Akan tetapi, kata Rudi, ada beberapa kendala yang menghambat sehingga rencana pembentukan perusahaan patungan antara Mittal dan BGD kemungkinan akan kembali diundur.

Kata Rudi, saat ini pihaknya bersama Mittal telah membentuk tim yang masih membahas 2 kendala yang menghambat pembentukan joint venture Mittal-BGD.

"Pertama, pelabuhan di Teluk Banten terlalu dangkal, perlu direklamasi untuk mencapai tingkat kedalaman 14 meter. Selain itu, ada masalah tingkat keekonomian. Bahan baku bijih besi yang dibutuhkan agak sulit didapat," katanya.

Meski begitu, Teluk Banten menurut Rudi akan tetap dipilih sebagai lokasi pembangunan pabrik sebab lokasinya paling strategis karena dilalui oleh jaringan pipa gas.

Rudi pun mengaku tetap optimistis jika rencana pembentukan perusahaan patungan itu bisa terealisasi pada tahun ini.

"Mudah-mudahan kuartal IV tahun ini kita sudah mendapat kepastian mengenai hal ini sehingga bisa segera merealisasikan pembentukan joint ventre corporate," kata Rudi

Jika kajian internal tuntas dilakukan, pihaknya bersama Mittal akan menemui Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI.

"Kami akan menemui BKPM untuk membicarakan masalah insentif fiskal yang mungkin bisa kami dapatkan," kata Rudi.

Menurutnya, Arcelor Mittal berencana membangun pabrik baja berkapasitas 2,5 juta ton per tahun.

"Rencananya, proyek ini akan berjalan setelah proyek kerja sama The Pohang Iron and Steel Company dan PT Krakatau Steel menggelinding. Nilai investasi yang akan digelontorkan untuk proyek ini sekitar 5 miliar dolar AS," ujar Rudi.

Dalam perusahaan patungan antara Mittal dan BDG tersebut, nantinya Mittal akan menguasai saham sekitar 80%, sedangkan BDG memiliki porsi saham sekitar 20%.

Pembangunan pabrik baja Mittal akan dimulai paling lambat akhir 2011. Pembangunan pabrik tersebut memerlukan waktu 2 tahun sehingga baru mulai beroperasi 2013.

Untuk mempercepat realisasi JVC, pihaknya bersama Mittal sedang melakukan studi mengenai bahan baku bijih besi dengan kadar fero tinggi untuk penyediaan bahan baku pembangunan pabrik.

"Sejauh ini pendataan masih dilakukan di Sumatera Selatan, Sumatera Utara, dan Kalimantan Selatan. Untuk bahan baku ini memang agak sedikit rumit," katanya.

Pasar di Korea Selatan

Permintaan baja di Korea Selatan, produsen baja terbesar keempat di dunia, pada tahun ini diperkirakan meningkat 12%.

Hal ini dipicu oleh langkah pabrikan mobil dan industri manufaktur lainnya meningkatkan produksi. Optimisme tersebut ditopang oleh kondisi ekonomi nasional Korea Selatan yang diyakini tumbuh positif.

Kementerian Ekonomi Korea Selatan menyatakan, konsumsi baja pada 2010 diperkirakan naik menjadi 51,4 juta ton, sedangkan ekspornya diproyeksikan mencapai US$25 miliar. Angka tersebut meningkat dari realisasi ekspor 2009 yang tercatat sebesar US$23,5 miliar.

Namun, dalam pernyataan resminya, Kementerian Ekonomi Korsel memperkirakan investasi domestik oleh produsen baja setempat turun 32% menjadi 6,9 triliun won atau setara US$6,1 miliar. Hal ini seiring dengan rampungnya proyek-proyek industri baja skala besar. Nilai ini lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pada 2009 sebesar 10,1 triliun won.

Hyundai Steel Co, produsen baja terbesar kedua di negeri Gingseng pada pekan ini mulai mengoperasikan pabrik baru peleburan baja yang dibangun tahun lalu, demikian dilaporkan bloomberc. (laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita