Jumat, 25 Mei 2012
Belasan Desa di Pacitan Kesulitan Air Bersih
Kamis, 12 Agustus 2010 07:26
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 12/8 (SIGAP) - Belasan desa di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, saat ini mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi memprihatinkan itu, terutama dirasakan oleh warga yang bermukim di Pacitan wilayah barat terutama di Kecamatan Punung serta Donorojo.

"Beberapa daerah terutama di wilayah (Pacitan) barat memang dikenal paling rawan kekeringan. Kondisi ini diperparah karena pipanisasi belum masuk ke sana," kata Kepala Sub Bagian Hubungan Langganan PDAM Kabupaten Pacitan, Slamet Irianto, Rabu (11/8).

Beberapa warga mengeluhkan hal serupa. Mereka mengaku, kesulitan mendapatkan air bersih mulai mereka rasakan sejak pertengahan bulan Juli lalu.

Untuk mendapatkan air, warga bahkan harus berjalan jauh menuju pedalaman hutan atau goa-goa.

Namun upaya itu sekarang tidak membuahkan hasil maksimal. Penyebabnya, beberapa sumber air yang ada di embung-embung kondisinya mulai keruh akibat digunakan juga untuk keperluan mandi-cuci warga.

Tidak hanya itu, beberapa peternak bahkan ada yang nekat memandikan hewan piaraannya meski agak jauh dari lokasi sumber.

"Jika ingin membeli air, kebanyakan dari kami merasa keberatan karena harga yang harus dibayar cukup mahal, sekitar Rp1.500/jerigen ukuran 10 liter," ujar Sudiono, warga Desa Cemeng, Kecamatan Donorojo.

Karena itu mereka berharap pada pemerintah daerah setempat untuk membangun jaringan pemipaan atau sumur bor.

Data di PDAM setempat menyebut sedikitnya ada 13 desa di Kecamatan Ngadirojo dan Sudimoro yang menjadi langganan kekeringan.

Estimasi itu diperkirakan akan terus bertambah karena daerah rawan kesulitan air bersih di kecamatan-kecamatan lain seperti Tulakan, Arjosari, Nawangan belum terdeteksi secara spesifik.

"Di Kecamatan Pringkuku kami mencatat ada empat desa rawan kesulitan air bersih dan belum terjangkau program pipanisasi, di Kecamatan Punung ada enam desa, dan di Donorojo ada dua desa," kata Slamet memberi gambaran.

Sedangkan di wilayah Pacitan timur, lanjut Slamet, dua kecamatan yakni Kecamatan Ngadirojo dan Sudimoro sebagian besar desa belum tersentuh program pipanisasi dari pemerintah.

"Tahun ini baru ada usulan untuk beberapa desa di Kecamatan Punung," katanya.

Khusus di Kecamatan Sudimoro, sebenarnya sekitar tahun 90-an masyarakat pernah merasakan ketercukupan air bersih. Namun kemudian terhenti, menyusul rusaknya peralatan genset hingga sekarang.
Sementara, sekitar 64.000 warga di 50 desa meliputi 11 kecamatan di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai kesulitan memperoleh air bersih.

Menurut Samsyul Bakri, Kepala Bidang Sosial Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Gunung Kidul, pada Kamis (5/8) berdasarkan pemantauan di lapangan, instansinya menemukan adanya warga di 11 wilayah kecamatan dari 18 wilayah kecamatan di Gunung kidul yang mulai kesulitan mendapatkan air bersih.

"Berdasarkan pantauan kami warga yang mulai kesulitan air bersih tersebut merata sehingga kami akan segera melakukan droping air bersih secepatnya ke wilayah rawan air bersih tersebut," kata Samsyul Bakri kepada Kompas.

Menurutnya, bak penampungan air hujan (PAH) di rumah warga saat ini mulai menipis isinya karena hujan sudah berhenti padahal satu-satunya yang dapat diandalkan masyarakat untuk persedian air bersih adalah air dari PAH tersebut.

Jadi droping air bersih menjadi satu-satunya solusi yang tepat dan cepat. (laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita