Jumat, 25 Mei 2012
Tangkapan Ikan Palabuhanratu Turun 50%
Kamis, 12 Agustus 2010 05:42
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 12/8 (SIGAP) – Karena gelombang tinggi dan minimnya alat tagkap, hasil tangkapan ikan nelayan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, turun hingga 50% dibandingkan tahun 2009.

Demikian dikatakan Manajer Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Palabuhanratu Ujang SB di Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (11/8). Dijelaskan Ujang, pada pertengahan 2009, hasil tangkapan mencapai 810.557 kilogram, namun pada 2010 hingga priode Juli, tangkapan ikan hanya sebanyak 482.139 kilogram.

Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan turunnya hasil tangkapan oleh nelayan. Selain karena faktor cuaca dan tinggi gelombang, minimnya alat tangkap menjadi salah satu penyebab seperti sekarang ini.

"Rata-rata nelayan di sini masih menggunakan alat tangkap tradisional, sehingga hasil tangkapannya pun sedikit," ujarnya.

Disamping itu, kondisi alam di Palabuhanratu saat ini juga sudah mulai tercemar karena banyaknya limbah dari bahan bakar mesin kapal ditambah dengan adanya pembangunan PLTU Palabuhanratu menyebabkan habitat ikan menjadi terganggu.

Seperti diketahui, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Palabuhan Ratu, yang saat ini sedang dalam pembangunan, rencananya akan mulai beroperasi pada 2011 mendatang.

Proyek yang menggunakan dana APBN sebesar Rp8 triliun ini berfungsi sebagai sumber tenaga listrik untuk penerangan Pulau Jawa dan Bali. Apabila telah beroperasi, PLTU akan menghasilkan kekuatan listrik hingga 1.050 megawatt (Mw), sehingga warga yang bermukim di Pulau Jawa dan Bali bisa seluruhnya mendapatkan aliran listrik dan diharapkan tidak ada lagi pemadaman.

"Karena kondisi yang seperti itu, nelayan harus mencari ikan sampai ke laut lepas, karena di dalam teluk populasi ikan sudah berkurang. Ditambah, nelayan di Palabuhanratu tidak bisa melaut sampai ke laut lepas, karena rata-rata perahu yang dimiiki nelayan hanya perahu kecil saja," tambahnya.

Topografi laut Palabuhanratu yang berada di dalam teluk merupakan daerah yang sangat cocok untuk komoditas ikan tuna, sehingga ikan ini menjadi komoditas utama nelayan.

Beberapa nelayan juga mengeluh karena hasil tangkapannya sangat minim. Belum lagi ditambah dengan cuaca dan tinggi gelombang, yang menyebabkan banyak nelayan yang tidak bisa melaut.

Sementara itu, petugas kasir TPI Pelabuhanratu, Untung menuturkan, bahwa hasil tangkapan ikan terbantu oleh nelayan-nelayan andon atau nelayan dari luar daerah yang mencari ikan dan menjual ikan di TPI. "Jika mengandalkan nelayan lokal produksi ikan tidak bisa tercapai," katanya singkat. (laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita