Jumat, 25 Mei 2012
PKT Investasi 14,2 Juta Dolar
Kamis, 12 Agustus 2010 05:00
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 12/8 (SIGAP) - PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) komitmen dalam mendukung program pemerintah di bidang ketahanan pangan nasional.

Untuk itu PKT telah menginvestasikan dana 14,2 juta dolar AS untuk membangun 2  pabrik NPK baru.

"Sebagai produsen urea terbesar di tanah air itu, PT Pupuk Kalimantan Timur menunjukkan komitmennya pada program ketahanan pangan nasional melalui investasi pembangunan pabrik NPK baru," kata direktur utama PKT, Hidayat Nyakman, di Sangata, Rabu (11/8).

Pabrik NPK yang diresmikan itu menggunakan teknologi Stem Fused Granulation ini memiliki produksi total sebesar 200 ribu ton per tahun.

Hidayat mengatakan pada akhir Juli 2010, pabrik NPK sudah beroperasi,dan produksinya memiliki merk dagang NPK Pelangi Super untuk subsidi dan NPK pelangi Maxi untuk nonsubsidi akan dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan sektor tanaman pangan dan perkebunan

Selain NPK Fused Blending, pupuk kaltim sebelumnya juga sudah memproduksi pupuk majemuk lainnya dengan merk dagang NPK Pelangi berkapasitas 200 ribu ton pertahun

Pada pabrik NPK pelangi ini dibuat dengan metode simple blending, sedangkan NPK Fused blending diolah diolah menggunakan metode fused granulation sehingga setiap butir pupuk yang dihasilkan sudah mengandung 3 unsur hara (NPK) yang dibutuhkan tanaman

"Sesuai SK Mentan RI no 50 tahun 2009, kebutuhan NPK subsidi ditahun 2010 sebesar 2,2 juta ton per tahun. Sedangkan kebutuhan untuk NPK nonsubsidi di Indonesia mencapai 5,9 juta ton per tahun," ujarnya.

Melihat trend kebutuhan NPK yang selau meningkat tiap tahun, maka selain membangun pabrik NPK Fused Blending di Bontang, Pupuk Kaltim bekerjasama dengan PTPN-IV dan PTPN-V juga akan membangun pabrik NPK di Medan Sumatera Utara.

Sementara itu, guna memenuhi kebutuhan pupuk organik nasional sebesar 1 juta ton, PT Pupuk Sriwijaya (Pusri) kini tengah mejajaki 45 pengusaha kecil dan menengah untuk membangun kemitraan produksi pupuk organik.

“Ada 45 calon mitra yang mengajukan diri untuk menjadi sentra produksi pupuk organik. Saat ini kita tengah mengevaluasi sesuai dengan standard pupuk organik termasuk pula kemungkinan jangka waktu keberlangsungan mereka, sehingga mereka tidak merugi dan pupuk organik terpenuhi,” kata manager Humas PT Pusri Zain Ismed, beberapa waktu lalu kepada beritamusi.com.

Salah satu syarat mitra pembuatan pupuk organik tersebut, kata Ismed, yakni harus dekat dengan sentra pertanian dan sumber bahan baku pupuk organik seperti kotoran sapi dan limbah kelapa sawit.

“Kita juga masih terbuka dengan calon mitra lainnya,” katanya.

Dijelaskan Ismed, dari 1 juta ton kebutuhan pupuk organik secara nasional, PT Pusri baru dapat memenuhi sekitar 180 ribu ton.

Sebagian itu berasal dari mitra PT Pusri yang ada Cianjur, Jawa Barat, di Sragen, Jawa Tengah, di Lumajang, Jawa Timur, serta di Palembang. (laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita