Jumat, 25 Mei 2012
Cuaca di 2010 Terekstrim Selama 12 Tahun Terakhir
Kamis, 12 Agustus 2010 03:38
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 12/8 (SIGAP) - Cuaca pada 2010 merupakan terekstrem selama 12 tahun terakhir yang dibuktikan terjadinya penyimpangan musim kemarau serta ditandai memanasnya suhu permukaan laut hampir di seluruh wilayah Indonesia.

"Kondisi seperti ini mirip pada 1998, tapi intensitasnya jauh lebih tinggi. Bisa dikatakan 2010 ini unik sekali karena lebih ekstrem," kata Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Soeroso Hadiyanto di Jakarta, Rabu (11/8).

Menurut Soeroso, fenomena ini bukan terjadi secara periodik dalam 12 tahun, sebab sebelum 1998 tidak terjadi cuaca seekstrem 2010. Dikatakan Soeroso, hal itu terjadi tergantung fenomena global yaitu arah angin maupun curah hujan.

"Saya tidak bisa mengatakan kalau ini sebuah fenomena periodik karena sangat tergantung dari tekanan udara, curah hujan dan lainnya," tambahnya.

Berdasarkan hasil pantauan BMKG maupun sejumlah badan cuaca seperti NOAA milik Amerika Serikat, BOM Australia, Jamsfe Jepang, prediksi El Nino/ La Nina menunjukkan indeks negatif.

Pada Agustus-September 2010 diperdiksi La Nina moderat sedangkan pada Oktober 2010-Januari 2011 berupa La Nina kuat.

"Saat ini pada Agustus 2010 terjadi fenomena global La Nina dengan intensitas moderat. Dampak El Nino sangat mempengaruhi suhu perairan di Indonesia," katanya.

Kondisi tersebut mempengaruhi cuaca pada Agustus 2010, yaitu memasuki masa pancaroba atau transisi dari musim kemarau ke musim hujan. Pada masa tersebut terjadi kemarau namun disertai dengan hujan atau dinamakan kemarau basah.

"Mungkin menjadi pertanyaan bagi masyarakat kenapa musim kemarau juga terjadi hujan, hal ini karena memasuki masa pancaroba, meskipun kemarau tapi juga terjadi hujan," tambahnya.

Faktor lain yang menyebabkan hujan terus menerus dengan curah hujan ekstrem yaitu di atas 150 mm/hari karena memanasnya suhu permukaan laut yang berdampak pada tingginya intensitas penguapan sehingga membentuk awan yang menyebabkan hujan.

Selain suhu permukaan laut yang panas, indikator lain adanya perbedaan tekanan udara antara Tahiti dan Darwin (SOI) yang saat ini nilainya positif 19,8 sehingga terjadi potensi hujan. Massa udara juga bergerak dari pasifik timur ke pasifik barat.

Himbauan Presiden

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk mewaspadai kecelakaan transportasi di Indonesia yang disebabkan oleh perubahan cuaca ekstrim yang terjadi saat ini.

Menurut Kepala Negara, iklim dan cuaca di dunia saat ini memang sedang dalam keadaan tidak menentu sehingga manajemen transportasi Indonesia perlu memperhatikan dengan serius agar tidak menganggu lalu lintas transportasi.

"Lihat satu persatu supaya secara efektif bisa mencegah kecelakaan transportasi. Manakala terjadi [gangguan cuaca], lalu tindakan seperti apa yang efektif yang harus kita lakukan," katanya saat membuka sidang kabinet paripurna di Kantor Sekretariat Negara, Selasa (10/8).

Secara khusus, Presiden Yudhoyono mengingatkan keamanan transportasi di wilayah timur, seperti Ambon (Maluku), Sulawesi Utara yang cenderung menghadapi cuaca esktrem.

"Bulan sekarang iklim dan cuaca tidak bersahabat, berarti perlu diwaspadai untuk memastikan transportasi kita dapat berjalan dengan baik," katanya seperti dilansir Bisnis Indonesia. (laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita