Jumat, 25 Mei 2012
Imbangi Impor Dengan Pemberdayaan Lokal
Kamis, 12 Agustus 2010 03:19
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 12/8 (SIGAP) – Pengamat peternakan dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Prof. Dr Warsito mengatakan, sebaiknya pemerintah mengimbangi impor sapi dengan menggalakkan peternakan sapi lokal.

Menurutnya,  boleh-boleh saja pemerintah mendatangkan sapi dari luar negeri, namun juga harus dipikirkan bagaimana memberdayakan peternak lokal. Pasalnya, bagaimanapun Indonesia adalah negara agraris dan memiliki plasma nutfah sapi terbanyak kedua di dunia. Demikian kata Warsito di Yogyakarta, Kamis (12/8).

Warsito menambahkan, jika Indonesia tidak mengimbangi impor dengan pemberdayaan peternakan lokal maka akan selamanya Indonesia menjadi negara importir sapi dan cita-cita swasembada daging tidak akan tercapai.

"Indonesia bisa mencontoh negara-negara maju yang terlebih dahulu berswasembada daging baru kemudian mengimpor sapi ke luar negeri. Indonesia bisa melakukan itu sebenarnya," katanya.

Dirinya mengatakan yang menjadi pertanyaan sekarang adalah sejauh mana pemerintah memberdayakan peternak lokal agar mereka nantinya dapat menjadi petani mandiri.

"Saya yakin jika peternakan lokal mampu berdikari, ketahanan daging nasional akan tercapai dan angka konsumsi protein hewani Indonesia akan meningkat," katanya.

Warsito mengatakan angka konsumsi protein hewani Indonesia tergolong sangat rendah jika dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya.

"Data tahun 2005 menunjukkan angka konsumsi protein hewani Indonesia 5 gram/kapita/hari, bandingkan dengan Singapura yang pada 1987 angka konsumsinya sudah ada di angka 22 gram/kapita/hari," katanya.

Dikatakan Warsito, di tahun 2011 pemerintah hanya menargetkan angka konsumsi protein hewani Indonesia mencapai separuh dari angka konsumsi Singapura.

"Protein hewani sangat penting sebagai pembentuk sistem kekebalan tubuh, artinya angka konsumsi tersebut akan berimplikasi pada kesehatan, lebih jauh lagi pada etos kerja, intelegensia, dan muaranya pada indeks pembangunan manusia," katanya.

Berdasarkan catatan SIGAP, plasma nutfah ternak mempunyai peranan penting dalam memenuhi kebutuhan pangan dan kesejahteraan bagi masyarakat dan lingkungannya. Berbagai tantangan yang dihadapi dalam pengembangan plasma nutfah perlu dikaji agar di masa yang akan datang tidak punah bahkan menjadi maenstrem agribisnis yang menguntungkan bagi peternak kecil maupun besar.

Seperi dikatakan Warsito, Indonesia adalah negara agraris dan memiliki plasma nutfah sapi terbanyak kedua di dunia. Kekayaan ini semestinya dijadikan pemicu guna memberdayakan peternak sapi lokal.

Konservasi sapi diberbagai daerah sebagai plasma nutfah perlu dikembangkan sehingga dapat menjadi maenstrem agribisnis yang menguntungkan bagi masyarakat peternak.

Dalam rangka optimalisasi potensi tersebut, maka pemberdayaan masyarakat peternak perlu ditingkatkan dengan penyuluhan yang intensif, bantuan sarana dan prasarana perkandangan dan permodalan dari berbagai pihak.

Seperti diketahui keunggulan ternak lokal mampu hidup dalam lingkungan ekstrim dibanding ternak impor, sehingga perlu ditingkatkan melalui perbaikan mutu bibit secara terpadu.

Tujuan dari peningkatan mutu bibit adalah peningkatan populasi dan nilai tengah populasi (produktivitas). Oleh karena itu pendekatan pemberdayaan peternak menjadi penting agar peternak dapat mandiri dalam merencanakan, mengatur dan menentukan pola serta strategi pemuliaan ternak. (laporan rusman/ant/punpad)

 

Arsip Berita