Jumat, 25 Mei 2012
Bengkulu: Puluhan Kapal Kandas di Pelabuhan Pulau Baai
Rabu, 11 Agustus 2010 05:18
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 11/8 (SIGAP) - Puluhan kapal barang yang akan masuk ke dermaga Pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu, terlihat kandas di alur dermaga yang masih tergolong dangkal itu.

"Selama Juli lalu puluhan kapal barang yang akan masuk ke pelabuhan tiba-tiba kandas karena alur dermaga pelabuhan masih mengalami pendangkalan," kata Pt Manejer Operasional PT Pelindo II Cabang Bengkulu M Amin, di Bengkulu, Selasa (10/8).

Dirinya menyebutkan, untuk Agustus ini, telah 3 kapal yang diketahui kandas, yakni 2 kapal barang dan 1 pengangkut bahan bakar minyak (BBM) milik Pertamina.

"Itu semua terjadi karena bagian dermaga Pelabuhan Pulau Baai masih begitu dangkal," katanya.

M Amin mengatakan, bila kegiatan pengerukan Pelabuhan Pulau Baai tidak bisa diselesaikan dalam waktu dekat, maka akan terus ditemukan adanya kapal yang kandas.

Mengingat itu, lanjut Amin, pihaknya meminta PT Pathaway untuk meningkatkan kinerja di lapangan, sehingga kegiatan pengerukan pasir yang ada di pelabuhan dapat dituntaskan secepatnya.

"Jika pengerukan pasir yang ada di alur pelabuhan tidak tuntas secepatnya, dikhawatirkan timbunan pasir di kolam pelabuhan semakin banyak, soalnya tingkat sindementasi di sekitar pelabuhan cukup tinggi," ucapnya.

Saat ini, timbunan pasir yang ada di Pelabuhan Pulau Baai di atas 3 juta meter kubik. "Endapan pasir ini jika tidak segera diangkat jumlahnya akan terus meningkat. Karena itu, kami minta PT Pathaway meningkatkan kinerja di lapangan, sehingga target pengerukan selama enam bulan dapat dituntaskan tepat waktu," ujarnya.

Amin mengatakan, target pengerukan tahap pertama berada pada kedalaman minus 6,5 meter dari sasaran akhir minus 9,5 meter.

"Dengan kedalaman ini kapal ukuran besar dengan bobot mati di atas 30.000 gros ton bisa leluasa masuk ke pelabuhan," katanya.

Dengan demikian, pengapalan batu bara produksi Bengkulu untuk tujuan ekspor, bisa langsung ke dalam kapal bersangkutan, tidak lagi menggunakan bantuan kapal tongkang seperti yang terjadi selama ini.

"Kalau selama ini kapal pengangkut batu bara tujuan ekspor terpaksa lepas jangkar di Pulau Tikus, Kota Bengkulu, karena kapal tidak bisa masuk ke dermaga akibat alur dangkal. Kondisi demikian membuat biaya pengapalan batu bara yang ditanggung pengusaha menjadi mahal," ujarnya.

Karena itu, kata Amin, pihaknya mengharapkan PT Pathaway dapat lebih aktif bekerja di lapangan sehingga pengerukan Pelabuhan Pulau Baai dapat dituntaskan secepatnya.

"Dengan demikian, kedalaman pelabuhan ini kembali normal seperti semula," katanya menjelaskan.
Diberitakan sebelumnya, menurut Media Indonesia alur masuk Pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu akan dikeruk 4 kapal moderen, masing-masing 2 kapal bertipe hopper dan cutter dan sisanya kapal keruk jenis cutter Inai Kiara dan Inai Kekwa.

"Saya langsung menyaksikan pada pengerukan awal pekan lalu dan hasilnya cukup bagus dan profesional," kata Kepala Dinas Perhubungan, Informasi dan Informatikan (Dishubkominfo) Provinsi Bengkulu Ali Berti, Sabtu (13/2).

Menurutnya, 2 kapal keruk lagi masih dalam perjalanan menuju Bengkulu yaitu kapal Inai Saga dan Inai Levender. "Bila dua kapal itu tiba, maka ada empat kapal akan melakukan pengerukan agar lebih mudah dan cepat," katanya.

Saat ini kapal Inai Kiara sudah berada di tepi alur masuk pelabuhan untuk melakukukan pengerukan, sebagian awak kapal tengah memasang pipa diameter besar untuk pembuangan pasir dari kapal tersebut ke daratan. Di daratan telah dipersiapkan lahan berbentuk kolam cincin sebagai tempat pembuangan pasir, dua alat berat sedang beroprasi, sehingga pasir yang sudah berada di daratan tidak kembali lagi ke pintu masuk pelabuhan.

Sedangkan areal pembuangan pasir telah disiapkan lahan seluas 1,5 hektare di sepanjang alur masuk kawasan pelabuhan tersebut. GM PT Inai Kiara Sabarudin mengatakan, pengerukan menggunakan roda bergerigi pada alur yang hendak dikeruk.

Roda dengan gigi besi itu berputar dan selanjutnya pasir di alur disedot dialihkan kedarat melalui pipa berukuran besar. Setiap 24 jam sekali, roda gigi selalu diperiksa bila nantinya ada mata giginya yang patah akibat terkena batu didasar laut, kapal berbobot 100 ton dan memiliki panjang 53 meter dengan lebar 14 meter tersebut beroprasi dalam 20 hingga 24 jam. (laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita