Jumat, 25 Mei 2012
Kendari: Pemkot Seminarkan Adat dan Budaya
Senin, 09 Agustus 2010 07:27
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 9/8 (SIGAP) - Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), menggelar seminar pengembangan dan pelestarian adat istiadat serta sosial budaya masyarakat dengan bertajuk "Keberagaman untuk Kendari, Adatku Budayaku".

Menurut Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kota Kendari, Arifin Baidi, di Kendari, Minggu (8/8), seminar ini didasari oleh semangat budaya sebagai warisan masa lampau yang masih dihargai oleh masyarakat Kota Kendari untuk menjadikan budaya sebagai pedoman hidup, serta menjadi nilai-nilai berpikir dan berprilaku.

Arifin Badi  menjelaskan, budaya masyarakat merupakan faktor penting bagi masukan dalam penyusunan program pembangunan, sebab manusia sebagai makhluk budaya adalah pelaku pembangunan.

Penghargaan terhadap nilai-nilai budaya individu maupun masyarakat merupakan bagian dari hak asasi manusia (HAM).

"Oleh karena itu, nilai-nilai budaya yang beraneka ragam tersebut harus diakomodir untuk saling menghormati nilai budaya sebagai hak asasi manusia dan hak asasi masyarakat," ujar Arifin.

Dirinya mengatakan, wujud menghormati dan menghargai nilai-nilai budaya tersebut akan dituangkan dalam rencana peraturan daerah (perda) tentang pengembangan dan pelestarian adat istiadat serta sosial budaya masyarakat.

"Untuk membuat rancangan perda itu, maka seminar ini diadakan guna mendapatkan konsep pemikiran tentang pelestarian dan pengembangan adat istiadat dan nilai sosial budaya masyarakat," ujarnya.

Selain itu, juga bertujuan untuk memperkokoh jati diri individu dan masyarakat dalam mendukung kelancaran penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, serta upaya untuk pengembangan budaya nasional dalam mencapai peningkatan kualitas ketahanan nasional dan keutuhan Negara Kesatuan RI.

Dalam catatan SIGAP, kontribusi budaya dan adat masyarakat memberi peran yang besar bagi kemajuan sosial masyrakat. Apa yang terjadi dengan keadaan bencana, dapat dikurangi korbannya  dengan pendekatan kebudayaan.

"Nilai-nilai kebijaksanaan lokal memberi kontribusi pada pengurangan risiko budaya, dan pendekatan antropologis sosiologis ada dalam dinamika budaya masyarakat setempat," ujar Sangap Surbakti, Tim Asistensi Staf Khusus presiden, sekembali dari Padang.

Seminar tersebut diselelenggarakan selama sehari yang diikuti kalangan tokoh adat se-Kota Kendari, perguruan tinggi, LSM, siswa SLTP dan SMA, camat dan lurah serta tokoh masayarakat serta tokoh perempuan.

Pemateri dalam seminar tersebut menampilkan narasumber dari Dirjen PMD Kemendagri, tokoh adat Tolaki dan tokoh adat Muna. (Wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita