Jumat, 25 Mei 2012
NTT: 25% Penduduk Belum Nikmati Listrik
Sabtu, 07 Agustus 2010 16:10
AddThis Social Bookmark Button

 

Jakarta, 7/8 (SIGAP) – Setidaknya sebanyak 1,4 dari 4,7 juta rumah atau kepala keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) atau sekitar 25% belum menikmati listrik. Keterbatasan anggaran baik anggaran pusat maupun daerah menjadi salah satu faktor yang dihadapi.

Menurut Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Kadistamben) Nusa Tenggara Timur, Bria Yohanes, di Kupang, Sabtu (7/9), mengatakan, saat ini juga masih terdapat 19 juta rumah tangga atau kepala keluarga di Indonesia yang belum menikmati listrik.

Dikatakan Yohanes, kebutuhan akan listrik saat ini sudah sebenarnya telah kebutuhan pokok warga masyarakat, namun sayangnya masih ada keterbatasan-keterbatasan sehingga belum seluruh rumah tangga dapat menikmati fasilitas tersebut.

Menurutnya, keterbatasan seperti terjadi secara nasional, sehingga, harus bersabar. "Krisis energi listrik saat ini tidak terhindarkan, kebutuhan konsumen yang menggunakan tidak sebanding dengan persediaan oleh pemilik.

Berdasarkan data, Kadistamben menyebut dari aspek komposisi kepemilikan sendiri jumlahnya mencapai 77%, sewa genset mencapai 3% dan kepemilikan karena pembelian jumlahnya mencapai 20%.

Kemudian dari aspek jenis pembangkit, yang menggunakan bahan bakar minyak sektiar 36%, batu bara 33%, gas alam 18%, air 10% dan panas bumi hanya 3%.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi nasional yang semakin membaik diharapkan pertumbuhan listrik akan normal kembali.

Yohanes mengatakan guna memenuhi pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik dalam 10 tahun ke depan diperlukan investasi sebesar 18,1 Miliar dollar AS, untuk tambahan kapasitas pembangkit sebesar 15.731 MW dan tambahan jaringan transmisi sepanjang 9.907 KMS.

Menurut Yohanes, salah satu solusi untuk mengatasi masih banyaknya warga NTT yang belum menikmati listrik, adalah membangun sumber daya energi alternatif yang terbarukan.

Agaknya tawaran ini sangat tepat. pasalnya dengan wilayah NTT yang terdiri dari pulau-pulau sehingga sulit dijangkau fasilitas listrik negara.

Ditambahkan Yohanes, potensi sumber energi terbarukan di NTT cukup tersedia, baik tenaga angin, surya dan mikrohidro serta panas bumi, hanya terkendala sumber dana dan sumber daya manusia untuk memaksimalkannya.

Berdasarkan catatan SIGAP, pertumbuhan jumlah yang membutuhkan listrik tidak sebanding dengan pertumbuhan jumlah generator sehingga demand listrik lebih tinggi daripada supply.

Namun bisa juga karena harga bahan baku listrik yang melonjak.  Pasalnya, sebagian besar listrik yang disupplai PLN berasal dari fossil fuel (batu bara, minyak, dan lainnya). Ketergantungan PLN terhadap fossil fuel sangat tinggi, sehingga apabila harganya naik, maka salah satu cara adalah dengan mengurangi produksi listriknya.

Untuk mengatasi ketergantungan terhadap fossil fuel dan mengurangi biaya produksi listrik,  sudah saatnya pemerintah mengembangkan secara intensif pembangkit listrik dengan sumber alternatif sesuai dengan situasi daerah.

Eco-electricity merupakan jawabannya, yaitu pembangkit listrik yang sumbernya dapat diperbaharui, yang saat ini sedang berkembang pesat di dunia adalah pembangkit listrik tenaga angin dan tenaga matahari.

SIGAP mencatat, keuntungan dan manfaat yang bisa didapat dari sumber tenaga alternatif adalah sumber tenaga yang tidak terbatas, ramah lingkungan (hampir tidak ada polusi), biaya perawatan yang rendah, biaya untuk memproduksi ulang listrik sangat rendah (karena inputnya tidak terbatas), mengurangi ketergantungan terhadap fossil fuel, sehingga apabila harga minyak naik, tarif listrik tidak ikut naik.

Sedangkan kekurangan yang dimiliki pembangkit listrik tenaga alternatif adalah tidak konsisten. Produksi listrik sewaktu-waktu bisa terganggu karena tidak ada angin yang bertiup, atau karena sinar matahari terhalang awan.

Saat ini negara-negara maju sudah mulai beralih pada sumber alternatif, walaupun sebagian besar listriknya masih dipasok oleh fossil fuel, namun tingkat ketergantungannya sudah berkurang.

Berdasarkan data dari GWEC (Global Wind Energy Council) dan American Wind Energy Association disebutkan, negara yang memakai listrik yang bersumber dari angin tertinggi adalah Jerman, Amerika, Spanyol, Denmark dan India. (laporan rusman/ant/kmp)

 

 

 

Arsip Berita