Jumat, 25 Mei 2012
Lubuklinggau: Penanganan Muntaber Dinilai Lamban
Jumat, 06 Agustus 2010 09:06
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 6/8 (SIGAP) - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menilai penanganan serangan wabah penyakit muntah berak di Kota Lubuklinggau, Sumatra Selatan, dalam sepekan ini masih lamban.

Demikian dikatakan Ketua DPRD Kota Lubuklinggau Hasby Asadiqi, Kamis (5/8). "Dari hasil pantauan kami di lapangan anak-anak yang terserang muntah berak (Muntaber) mencapai 150 orang lebih, ini terjadi dalam setengah bulan terakhir. Jadi kalau penanganannya lamban akan menjadi kejadian luar biasa (KLB)," kata Hasby Asadiqi.

Untuk mengantisipasi meluasnya serangan penyakit ini pihak Pemkot Lubuklinggau melalui dinas terkait harus proaktif, dengan jalan berkeliling memantau perkembangannya di masyarakat dan mengambil langkah penanganan yang cepat.

Berdasarkan pantauan di Rumah Sakit Islam Siti Aisyah Lubuklinggau, menunjukkan dari 58 ruang rawat inap hampir terisi penuh oleh pasien anak-anak yang terkena penyakit tersebut.

Menurut perawat di rumah sakit ini, pasien yang terserang penyakit muntaber umumnya anak-anak yang berusia di bawah lima tahun (balita).

"Dalam dua minggu terakhir setidaknya ada 50 orang pasien anak-anak yang menjalani opname karena diserang penyakit muntaber," kata Susi salah seorang perawat di bagian anak-anak RS Islam Siti Aisyah.

Sementara itu hal yang sama juga terlihat di Rumah Sakit Dinas Kesehatan Tentara (DKT) Lubuklinggau dan Rumah Sakit dr Sobirin Musi Rawas, yang terletak di Kota Lubuklinggau.

Menurut keterangan dokter spesialis anak RS dr Sobirin, H Ismail Makruf, anak-anak yang terserang penyakit tersebut harus menjalani rawat inap karena banyak mengeluarkan cairan.

Kendati belum ada korban jiwa kata Ismail, penyakit tersebut harus di waspadai karena bisa merenggut nyawa penderitanya bila lamban ditangani secara medis.

Adanya perubahan cuaca belakangan ini dan kurangnya perhatian orang tua untuk menjaga kesehatan dan pola makan mengakibat anak-anak rentan terserang penyakit tersebut.

Terkait dengan hal itu, masyarakat diimbau, terutama yang memiliki anak berumur dibawah 2 tahun untuk mewaspadai penyakit tersebut karena dapat menyerang setiap saat.

Selain itu masyarakat juga diminta untuk melakukan pencegahan bila anaknya terserang muntaber dengan jalan memberikan air minum sebanyak-banyaknya, karena penderita penyakit ini biasanya akan mengalami kekurangan cairan.

Berdasar catatan SIGAP, muntaber adalah keadaan dimana seseorang menderita muntah-muntah disertai buang air besar berkali-kali. Kejadian itu dapat berulang tsampai lebih sepuluh kali dalam sehari. Terjadi perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, melembek sampai mencair, yang kadang juga mengandung darah atau lendir. Lazimnya, penyakit muntaber memang menyerang anak-anak, terutama pada usia dua hingga delapan tahun. Mereka mudah tertular karena daya tahan tubuhnya belum sekuat orang dewasa.

Penyebab utama muntaber menurut Astri Rozanah Siregar, Biolog Pemerhati Masalah Kesehatan dan Lingkungan adalah peradangan usus oleh bakteri, virus, parasit lain (jamur, cacing, protozoa), keracunan makanan atau minuman yang disebabkan oleh bakteri maupun bahan kimia serta kurang gizi, misalnya kelaparan atau kekurangan protein.

Penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri Escherichia coli ini dapat mewabah akibat lingkungan sekitar tempat tinggal yang kurang bersih serta makanan yang dikonsumsi terkontaminasi bakteri. Sistem sanitasi yang tidak terjaga dengan baik juga memudahkan kuman untuk berkembang biak. Hujan yang terus menerus sehingga menimbulkan banjir dan lingkungan yang kotor, sangat potensial menimbulkan wabah muntaber.

Cara penularan muntaber adalah melalui infeksi kuman penyebab, terjadi bila mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi tinja atau muntahan penderita muntaber. Tinja atau muntahan tersebut dikeluarkan oleh penderita atau pembawa kuman (carrier) yang buang air besar atau muntah di sembarang tempat.

Tinja dan muntahan tadi kemudian mencemari lingkungan misalnya tanah, sungai dan air sumur. Orang sehat yang menggunakan air sumur atau air sungai yang sudah tercemari kemudian dapat menderita muntaber. Penularan langsung juga dapat terjadi apabila tangan kotor atau tercemar kuman dipergunakan untuk menyuap makanan.

Muntaber lebih sering menyerang anak-anak karena cara makan dan minum mereka yang umumnya belum dapat menjaga kebersihan. Mereka mengonsumsi makanan atau minuman tanpa memperhatikan kebersihan makanan yang dikonsumsi. Mengonsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi bakteri, merangsang asam lambung yang akhirnya menimbulkan muntaber. Oleh karena itu, perhatian orang tua sangat diperlukan untuk mencegah timbulnya penyakit muntaber pada anak-anak. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita