Jumat, 25 Mei 2012
Sejumlah Wilayah di Sulawesi di Landa Banjir
Jumat, 06 Agustus 2010 08:35
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 6/8 (SIGAP) – Berdasarkan pantaun SIGAP sejak beberapa hari lalu sejumlah wilayah di Sulawesi dilanda banjir.

Di Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, banjir melanda daerah setelah hujan deras mengguyur wilayah itu sejak Rabu (4/8). Dilaporkan, wilayah kecamatan yang terendam banjir pada Kamis di antaranya adalah Kabila, Tilongkabila, Suwawa, Suwawa timur, Tapa, juga Botupingge, yang meliputi puluhan desa dan kelurahan.

Banjir terparah dialami oleh warga yang tinggal di bantaran anak-anak sungai Bone yang meluap, dengan ketinggian air mulai dari seukuran lutut hingga mencapai dada orang dewasa.

"Air mulai menyambangi rumah kami sejak tiga jam hujan mengguyur," ujar Rosna, warga di bantaran anak sungai Bone, Desa Talango, Kecamatan Talango.

Di Kecamatan Botupingge, warga khawatir dengan bahaya longsor dari perbukitan kapur dan titik-titik lokasi penambangan pasir dan batu yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

Cuaca mendung disertai hujan gerimis masih berlangsung di wilayah itu, belum ada keterangan resmi pemerintah daerah terkait berapa kerugian yang dialami akibat banjir tersebut.

Sementara di Polman, Sulawesi Barat, banjir akibat hujan deras yang merendam sejumlah desa yang ada di Kecamatan Mapilli dan Kecamatan Luyo, Kabupaten Polewali Mandar (Polman) Provinsi Sulawesi Barat.

Banjir ini merusak sekitar 657 hektare sawah petani Banjir yang disebabkan meluapnya sungai Maloso di Kecamatan Mapilli. Akibatnya merendam dan merusak lahan persawahan disejumlah desa yaitu Desa Bonra, Rumpa, Segerang dan Desa Buku di Kecamatan Mapilli dan Luyo, Kabupaten Polman, Kamis (5/8). Demikian dikatakan salah seorang petani di Polman, Syaiful.

Para petani yang sawahnya terendam banjir mengalami kerugian cukup besar, karena sawahnya gagal panen, mereka kini hanya bisa pasrah sawahnya dirusak banjir. "Sekitar 657 hektare sawah di polman diperkirakan rusak akibat terendam banjir karena tidak adanya saluran pembuangan air disawah petani," ucapnya.

Sementara itu, dua desa di Kecamatan Cempa, yakni Desa Baba Binanga dan Desa Cillellang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, terendam banjir dengan ketinggian kurang lebih 2 meter, sejak Rabu (4/8).

Banjir tersebut terjadi akibat akibat curah hujan yang tinggi selama dua hari terahir, sehingga membuat air sungai Saddang meluap. Di Desa Cillelang tercatat sebanyak 485 rumah Kepala Keluarga (KK) yang terendam banjir.

Camat Cempa, Pinrang, Drs Badaruddin, yang dihubungi Kamis (5/8), mengatakan, sejak kemarin pihaknya sudah turun langsung ke lokasi untuk memantau banjir. Mmenurutnya, kondisi di ke dua desa di Cempa tersebut tergolong parah.

Badaruddin mengatakan, dapat dipastikan ratusan hektar sawah dan tambak masyarakat petani setempat ikut terendam banjir.

"Ketinggian air terus bertambah hingga mencapai perut orang dewasa," katanya.

Badaruddin menambahkan, salah satu desa terparah akibat banji yang terisolasi yang sulit diakses yakni Desa Cilellang, sehingga untuk menembus lokasi harus menggunakan perahu karet atau sampan milik warga lantaran ketingginnya diperkirakan mencapai dua meter.

Badaruddin mengaku, belum ada pihak dari Pemkab mengunjungi warga dilokasi banjir, sementara warga korban banjir, utamanya yang terjebak di rumah masing-masing, mulai kesulitan makanan dan air bersih.

"Ini sudah kami laporkan ke pihak Pemkab. Namun belum ada yang berkunjung. Kami berharap segera turun bantuan untuk warga korban banjir," katanya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pinrang Drs Matalatta secara terpisah mengatakan, bantuan untuk korban banjir Bababinangan baru akan disalurkan Jumat (6/8), karena bantuan terlebih dahulu harus dikucurkan kepada korban banjir di Desa Katomporang, Kecamatan Duampanua.

Sedangkan di Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, dalam beberapa hari terakhir mengakibatkan banjir melanda 3 kecamatan setempat.

Sejumlah permukiman maupun lahan pertanian, Kamis (5/8), terendam banjir yang tingginya bervariasi.

Sejumlah titik yang terendam banjir tersebut terdapat di Kecamatan Duapitue, Kecamatan Panca Lautang, Kecamatan Tellu Limpoe, dan Kecamatan Maritengngae.

Wakil Bupati Sidrap Ir H Dollah Mando selaku Ketua Pelaksana Harian Satuan Pelaksana (Satlak) Penanggulangan Bencana Sidrap memantau banjir yang melanda tiga desa dan satu kelurahan di Kecamatan Duapiue, Kamis.

Dalam pantauan tersebut, Wakil Bupati Sidrap didampingi Kepala Dinas (Kadis) Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA), Ir Imran Abidin M Si, Kabag Humas Mahmud SE M Si, Kabid Pertanian Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Perkebunan, Ir Nuraeni Hamid dan staf lainnya.

Kepada Wabub, Camat Duapitue Drs A Bachtiar MM melaporkan data sementara korban banjir di wilayahnya.

Luas tanah persawahan siap panen yang tergenang banjir mencapai 916,96 hektare. Dengan rincian, Desa Padaloang Alau 184,24 hektare, Padaloang 109,00 hektare, Taccimpo 378,89 hektare dan Kelurahan Salomallori 244,83 hektare.

"Rata-rata umur tanaman padi yang tertendam banjir sekitar 70 sampai 105 hari, kerusakannya akan kami pantau 5-7 hari ke depan," jelas Bachtiar.

Bachtiar menambahkan, sebanyak 80 rumah sumurnya tergenang air sehingga mememerlukan bantuan air bersih. Kebutuhan warga itu telah disampaikan kepada Wabup yang mengatakan segera menurunkan tiga mobil tangki air bersih.

Selain di wilayah Kecamatan Dua Pitue, kerusakan parah juga terjadi di dua kecamatan lain yaitu Kelurahan Wettee, Kecamatan Panca Lautang dan Desa Teteaji, Kecamatan Tellu Limpoe.

Informasi dari pemerintah dan warga setempat menyebutkan, di samping menggenangi sejumlah rumah, banjir juga menggenangi lahan persawahahan sekitar 300 hektare.

Di Desa Teteaji selain kerusakan pada tanaman padi, rumah warga juga rudak akbiat terjangan air dan angin.

Menurut Kades Teteaji Nurfadli Suyuti, sedikitnya 5 rumah rusak berat, 10 rusak ringan dan sekitar 50 rumah rusak ringan. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita