Jumat, 25 Mei 2012
Ekowisata Menjadi Kekuatan Raih Devisa
Jumat, 06 Agustus 2010 07:25
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 6/8 (SIGAP) – Pengelolaan kawasan wisata alam (ekowisata) menjadi program di sejumlah daerah dalam meningktkan devisa. Seperti yang dilakukan Kalimantan Tengah (Kalteng) dengan melakukan pengembangan Taman Nasional (TN) Sebangau, menjadi kawasan wisata alam (ekowisata). Sehingga menjadi kekuatan penarik devisa yang mampu mensejahterakan rakyat.

Demikian disampaikan Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng), Teras Narang, dalam sambutan tertulis dibacakan Staf Ahli Gubernur, Drs A Basuniansyah pada pembukaan seminar rencana pengembangan ekowisata TN Sebangau di Palangkaraya, Kamis (5/8).

TN Sebangau yang disebutnya sebagai pintu gerbang pariwisata alam Kalteng diyakini memiliki daya tarik mendunia dengan pesona alam gambut, keindahan bentang alam pegunungan Muller-Schwanner dan kekuatan sosial budayanya.

Dikatakan dalam sambutan Gubernur itu, Kalteng perlu belajar dari Bali, Lombok, dan Yogyakarta dalam upaya meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara dan menarik potensi pasar wisata dunia serta menarik dollar sebanyak-banyaknya.

Diarapkan pada periode kedua masa jabatannya, gubernur dapat meneruskan kebijakan `Green Province` yang digagasnya sejak periode pertama masa jabatan untuk memicu pertumbuhan ekonomi yang berwawasan lingkungan.

Sektor kebudayaan dan pariwisata merupakan salah satu prioritas pembangunan Provinsi Kalteng sejak tahun 2008 dan telah didukung dengan rumusan kebijakan-kebijakan operasional, salah satunya terwujudnya pengelolaan keragaman budaya untuk peningkatan kualitas hidup bangsa.

Gubernur menekankan agar pengembangan pariwisata hendaknya sejalan dengan visi Kementerian Kehutanan tahun 2010 hingga 2014, hutan lestari untuk kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan.

Dalam sambutan tertulisanya itu, gubernur mengingatkan pentingnya berpegang pada prinsip-prinsip dasar penyelenggaraan ekowisata yang mencakup 5 unsur penting, yaitu konservasi, pendidikan, ekonomi, kesejahteraan masyarakat dan rekreasi.

Hal terpenting kata gubernur, para pelaku ekowisata mencermati prisip-prinsip penyelenggaraan yang meliputi penghargaan terhadap norma agama, nilai budaya, dan pendidikan.

Selain itu, perlu juga perhatian khusus pada hak asasi manusia, keragaman budaya dan kearifan lokal serta tidak meninggalkan kesejahteraan rakyat. Untuk itu penting didalam pengelolaannya juga diingatkan akan adanya prinsip kelestarian alam dan lingkungan serta keterlibatan masyarakat lokal.

Sejatinya, Ekowisata merupakan salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan.

Ekowisata berbasis masyarakat dapat menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat setempat, dan mengurangi kemiskinan, di mana penghasilan ekowisata adalah dari jasa-jasa wisata untuk turis: fee pemandu; ongkos transportasi; homestay; menjual kerajinan, dll. Ekowisata membawa dampak positif terhadap pelestarian lingkungan dan budaya asli setempat yang pada akhirnya diharapkan akan mampu menumbuhkan jati diri dan rasa bangga antar penduduk setempat yang tumbuh akibat peningkatan kegiatan ekowisata.

Berdasarkan catatan SIGAP, para pelaku dan pakar di bidang ekowisata sepakat untuk menekankan bahwa pola ekowisata sebaiknya meminimalkan dampak yang negatif terhadap linkungan dan budaya setempat dan mampu meningkatkan pendapatan ekonomi bagi masyarakat setempat dan nilai konservasi. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita