Kamis, 23 Februari 2012
Karawang: Puluhan Petani Jamur Merang Gulung Tikar
Kamis, 05 Agustus 2010 06:07
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 5/8 (SIGAP) – Karena sulit mencari minyak tanah sebagai bahan pendukung produksi, puluhan petani jamur merang di Kabupaten Karawang, Jawa Barat  menghentikan produksinya.

Hal ini dikeluhkan Misa Suwarsa, salah seorang petani jamur merang di Kelurahan Tunggakjati, Kecamatan Karawang Barat, Karawang, Rabu (4/8). "Beberapa tahun terakhir, ada sekitar 600 kubung sebagai media pertumbuhan (rumah jamur) di Karawang. Tetapi, sekarang hanya ada sekitar 1.000 kubung," katanya.

Namun saat ini, kata Misa, banyak petani yang gulung tikar atau menghentikan produksi jamur merang, dan beralih profesi.

Hal itu terjadi setelah para petani jamur merang di Karawang kesulitan memperoleh minyak tanah sebagai bahan bakar dalam proses produksi jamur merang.

Menurutnya, minyak tanah sebagai bahan bakar tidak bisa digantikan dengan bahan bakar lain. Jika digantikan dengan batu bara, maka perapiannya kurang bagus dan akan berakibat terhadap kualitas produksi.

Begitu juga, jika digantikan dengan bahan bakar lainnya, kualitas produksinya tidak akan sebagus dengan menggunakan minyak tanah. Hal itu terjadi karena energi panas yang dikeluarkan berbeda antara minyak tanah dengan bahan bakar lainnya.

"Kalau menggunakan kayu bakar, itu bisa saja. Tetapi, di Karawang sangat sulit mencari kayu bakar. Jadi, program konversi minyak tanah ke gas itu sebenarnya sama saja membunuh para petani jamur merang," katanya.

Seperti diketahui, saat masih banyak kubung atau masih banyak petani jamur merang di Karawang, produksi jamur merang dari Karawang cukup besar dan mampu memenuhi permintaan pasar Jakarta dan wilayah sekitarnya.

"Dahulu, jamur merang dari Karawang mampu dikirim ke Jakarta dan sekitarnya hingga mencapai 15 ton per hari. Tetapi sekarang, hanya mampu 2 ton per hari. Jadi, cukup drastis penurunannya akibat kesulitan memperoleh minyak tanah," katanya.

Di kalangan petani, harga jamur merang mencapai Rp16.000 per kilogram. Sedangkan di Jakarta, harganya sudah mencapai Rp30.000 per kilogram.

Ditambahkan Misa, sejak kesulitan minyak tanah, para petani sulit memenuhi permintaan pasar.

Berdasarkan pantauan SIGAP, jamur merang menjadi andalan pendapatan petani di Karawang. Sebagian besar masyarakat di Desa Citarik, Kecamatan Tirtamulya, Kabupaten Karawang misalnya bergantung kepada usahatani padi, sayuran dataran rendah, dan usaha ternak domba. Seperti halnya di beberapa desa sekitarnya, sebagian masyarakat Desa Citarik juga mengusahakan budidaya jamur merang.

Seperti diketahui, jamur merang (Volvaria volvaceae), adalah jamur konsumsi yang paling populer di Indonesia. Meskipun disebut jamur merang, sebenarnya jamur sejenis ini bisa tumbuh pada banyak media. Paling banyak jamur merang ditumbuhkan di media jerami (batang dan daun padi).

Jamur merang dipasarkan dalam bentuk masih kuncup, yakni ketika masih dalam stadia kancing. Namun beda dengan jamur kancing, bentuk jamur merang lebih mirip dengan telur burung merpati. Sebab batang dan tudungnya masih menyatu dan tertutup oleh volva.

Warnanya di bagian bawah putih sementara bagian atasnya abu-abu kecokelatan. Kalau sudah mencapai fase dewasa, jamur merang akan berbentuk payung dengan tudungnya yang mengembang lebar. Rasa dan aroma jamur merang sangat khas dan berbeda dengan mushroom maupun jamur kuping. Selain dimasak sup, jamur merang paling banyak digunakan sebagai campuran mie ayam maupun mie bakso.

Pasar jamur merang terbesar di Indonesia adalah Jakarta dan sekitarnya. Untuk menghemat biaya transportasi, lokasi produksi idealnya dipilih yang paling dekat dengan Jakarta. Namun lokasi tersebut juga harus memiliki sumber bahan baku yang melimpah . Sebab kalau tidak, justru bahan baku tersebut harus didatangkan dari tempat lain dengan biaya transportasi yang lebih mahal lagi.

Kawasan yang dekat dengan Jakarta namun memiliki bahan baku jerami padi melimpah adalah Bekasi dan Karawang. Sebab kawasan ini juga dikenal sebagai lumbung padinya Indonesia, khususnya Jawa. Karenanya, Bekasi dan Karawang merupakan lokasi paling ideal untuk memproduksi jamur merang. Karena Bekasi sudah banyak didesak oleh pertumbuhan industri dan perumahan, maka Karawanglah yang masih ideal untuk mengembangkan jamur merang dalam rentang waktu yang lebih panjang ke depan. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita