Jumat, 25 Mei 2012
Prioritaskan Jual Potensi Lokal
Rabu, 04 Agustus 2010 10:07
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 4/8 (SIGAP) - Gubernur Bali Made Mangku Pastika berharap pengelolaan pasar tradisional dapat benar-benar memprioritaskan menjual potensi lokal.

Imbauan Gubernur Bali ini dikatakannya pada acara pembukaan revitalisasi Pasar Sindu Sanur, Rabu (4/8).  Menurutnya pasar yang menyediakan berbagai jenis kebutuhan sehari-hari ini, sebaiknya menjual produk yang ada disekitar pasar.

Selain itu dirinya menginginkan, pasar tradisional jangan menjual barang yang murah dan bermerek yang di impor, sebaiknya pasar desa menjual produk asli daerahnya.

Hal ini sejalan dengan harapan Bali supaya mampu menghasilkan produk-produk makanan yang organik. Kendati sedikit mahal dibandingkan dengan makanan hasil anorganik. Sehingga sangat tepat diwujudkan agar Bali semakin dikenal kalangan wisatawan mancanegara.

"Wisatawan yang datang ke Bali kita harapkan juga yang kelasnya menengah ke atas," ucapnya.

Mangku Pastika mengatakan mendukung pasar tradisional bisa bertahan dan eksistensi di masa depan.  Mangku Pastika menambahkan, dengan menjual produk sendiri, pasar tradisional memiliki kekhasan tersendiri.

"Kalau pembeli pingin mencari produk impor sudah ada `departemen store` atau mal. Kalau ingin mencari produk lokal yang asli baik pembeli lokal maupun asing silakan datang ke pasar tradisional," ujarnya.

Menyinggung pengolahan lahan pertanian yang menggunakan pupuk organik di Bali, Gubernur Bali menjelaskan, telah membuat program sistem pertanian terintergrasi ("simantri"). Yaitu memanfaatkan kotoran ternak sapi untuk dijadikan pupuk organik.

"Bayangkan saja kalau tanah Bali yang kecil ini hanya menggunakan pupuk kimia, lama-kelamaan Pulau Dewata akan kering tidak subur. Untuk itu, mari kita galakan memanfaatkan pupuk organik," katanya menegaskan.

Sebagai destinasi pariwisata, lanjut Mangku Pastika, Bali mesti memiliki sebuah ciri khas dibidang pertanian. "Melalui program `simantri`, kita targetkan Bali mampu menjadi destinasi wisata berbasis pertanian," kata Mangku Pastika berharap.

Berdasarkan catatan SIGAP, kesadaran menjalani gaya hidup alami atau organik sudah mulai muncul. Sayangnya tak dibarengi dengan akses informasi yang memadai. Hasil riset manfaat produk lokal pun tak banyak diterima publik. Padahal konsumen semakin kritis, ingin memastikan produk yang dibelinya kaya manfaat termasuk higienitasnya.

Beberapa waktu lalu, Ir Bibong Widyarti, praktisi dari Aliansi Organis Indonesia/Rumah Organik, mengatakan kebutuhan mendapatkan data mengenai manfaat produk organik, seperti buah lokal, sulit terpenuhi. Akses data ini menjadi penting, karena konsumen di perkotaan semakin kritis ketika memilih produk. Sekalipun kesadaran untuk hidup sehat dengan cara organik sudah muncul, masyarakat ingin mendapatkan informasi produk yang lengkap dari hasil riset yang terpercaya.

"Riset tentang produk organik masih sedikit, sehingga agak sulit mendapatkan data hasil riset tentang produk lokal," kata Bibong usai Kampanye Green and Fair Products beberapa waktu lalu.

Sedangkan kondisinya, informasi produk impor yang semakin membanjiri pasar, sangat mudah ditemukan. Termasuk mengenai berbagai manfaat produk, berdasarkan hasil penelitian yang bisa dijadikan referensi terpercaya.

Dalam kesempatan terpisah, Prof Dr Indrawati Gandjar, peneliti senior, salah satu juri pada L'Oreal - UNESCO for Women in Science Indonesia, mengatakan jumlah penelitian pangan di Indonesia sudah cukup banyak, hanya saja informasinya tersumbat.

"Penelitian tentang produk pangan lokal, seperti manggis, sudah ada dan sudah dilakukan peneliti Indonesia. Hanya saja informasinya mandek dan kurang disebarluaskan dengan bahasa yang lebih mudah diterima banyak kalangan," papar Gandjar, beberapa waktu lalu.

Menurut peneliti lulusan Fakultas MIPA di salah satu universitas di Belanda pada 1958 ini, hasil penelitian seharusnya dipublikasikan lebih luas, bukan sekadar menjadi makalah ilmiah.

"Peneliti sebaiknya tidak hanya membuat laporan kepada pihak yang memberikan bantuan dana, baik pemerintah ataupun organisasi di luar negeri. Yang lebih penting adalah hasil penelitian disebarkan agar orang tahu apa saja yang sudah dilakukan," imbuhnya. (laporan rusman/ant/femalekompas)

 

Arsip Berita