Jumat, 25 Mei 2012
Ribuan Hektar Lahan Pertanian di Perbatasan Terendam
Senin, 02 Agustus 2010 08:31
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 2/8 (SIGAP) - Ribuan hektare lahan pertanian baik persawahan maupun perladangan di perbatasan Kabupaten Lampung Selatan dengan Kabupaten Lampung Timur terendam banjir. "Tanaman pertanian yang tergenang meliputi tanaman jagung, singkong, padi dan sayuran yang berada di radius dua kilometer dari bantaran sungai Way Sekampung yang meluap," kata Ade Hermawan, petani di Desa Malangsari, Kecamatan Tanjungsari, Lampung Selatan, di Tanjungsari. 

Dirinya mengatakan, tanaman jagung miliknya mencapai 1,5 hektare terendam, namun karena usia jagung sudah saatnya dipanen maka kerugian tidak begitu besar dan sebagian masih dapat dipanen. Petani di Desa Gunungagung, Kecamatan Sekampung Udik, Lampung Timur, Idham Maulana mengatakan banjir terjadi sejak dua hari lalu yang merendam lahan persawahan saat usia tanaman padi berusia dua bulan dan mulai berisi.

"Kemungkinan besar banyak bulir padi yang tidak berisi "gabuk" dan menurunkan produksi panan musim gadu (kering) ini," kata dia. Dia mengatakan, sejumlah persawahan tersebut sebenarnya telah diberikan tanggul penangkis, namun masih tergenang banjir karena air meluap melalui pintu-pintu air. "Namun kami bersyukur, karena sebelum dibuatkan tanggul penangkis oleh Pemerintah Provinsi Lampung, kerusakan sangat parah di daerah langganan banjir ini," katanya.

Petani di Desa Sindanganom, Kecamatan Sekampung Udik, Suparna, mengatakan, lahan pertanian miliknya yang berada di dekat sungai Way Sekampung juga terendam sudah dua hari namun belum kunjung surut. "Banjir ini merupakan banjir kiriman dari hulu, karena daerah kami tidak turun hujan," ujarnya.

Dirinya mengatakan banjir telah merendam tanaman singkongnya dan sebagian merendam tanaman padi yang baru di tanam beberapa pekan. Menurut dia, jika banjir tak kunjung surut dipastikan tanaman singkong akan membusuk dan tanaman padi harus menyulam kembali bagian yang rusak dengan bibit baru, untuk mempertahankan produktivitas padi.

Maraknya bencana banjir  yang di berbagai daerah, menurut Bustanul Arifin, pengamat ekonomi pertanian, harus segera menjadi perhatian pemerintah. “Selain menanggulangi dampak banjir,  pemerintah melalui Dinas Pertanian setempat harus menangani dan memberikan pendampingan kepada para petani,”katanya kepada Sigap, Senin (2/8).

Hal ini, kata lanjut Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Uiversitas Lampung (Unila) Lampung ini, agar petani tidak merasa ditinggalkan sendiri mengatasi masalahnya dan mencegah sedini mungkin timbulnya gagal panen. “Munculnya gagal panen ini menjadi salah satu mata rantai penyebab adanya rawan pangan,”katanya.

Lebih jauh peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Jakarta ini menyatakan bencana banjir, tanah longsor, menurunnya kualitas beras karena perubahan iklim atau curah hujan yang sangat tinggi, akan menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan produksi pangan dan upaya memperkuat ketahanan pangan. (laporan Sofyan Badrie/ant)

 

Arsip Berita