Jumat, 25 Mei 2012
Perlu Memasyarakatkan Lidah Mertua Yang Antipolutan
Minggu, 01 Agustus 2010 14:13
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 1/8 (SIGAP) – Perlu memasyarakatkan "sansevieria" alias "si lidah mertua" karena tanaman antipolutan ini dapat menyerap karbon dioksida. Permasalahan polusi udara saat ini telah menjadi kasus lingkungan hidup perkotaan dan harus segera mengantisipasinya.

Demikian disampaikan Ketua Umum Komunitas Pencinta Sansevieria Indonesia, Ully Hary Rusady. Menurutnya, di samping sebagai salah satu tanaman antipolutan, sansevieria ini merupakan tanaman obat dan tanaman hias di rumah.

Menurutnya kemajuan teknologi dan pola hidup masyarakat modern di dalam aktivitas kegiatannya telah menghasilkan gas beracun. Selain itu, kata Ully, banyaknya kendaraan bermotor di daerah perkotaan yang menghasilkan karbon dioksida yang tidak sehat bagi kehidupan. "Dengan adanya tanaman sansevieria, polusi tersebut akan diserap," katanya menegaskan.

Kompensasi mengampanyekan peduli sanseviera terjadi pada Pameran Flora dan Fauna 2010 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada 10-11 Juli 2010 lalu dengan menggelar berbagai rangkaian acara, seperti talkshow "Penyiapan Tanaman Sansevieria untuk Kontes dan Sistem Penilaian".

Kegiatan lain, talkshow "Fungsi dan Manfaat Sanseviera untuk Lingkungan Hidup", di samping seminar, pelatihan dan pemuliaan sansevieria, parade sansevieria, lelang, serta kampanye udara.

Dijelaskan, kegiatan itu merupakan wujud kepedulian Kompensasi terhadap lingkungan hidup yang nyata dengan cara menyosialisasikan fungsi, guna, dan manfaat sansevieria sebagai tanaman metropolitan multifungsi, antara lain sebagai tanaman antipolutan, obat tradisional, dan bahan baku tekstil.

Ully menjelaskan Kompensasi merupakan wadah berkumpulnya masyarakat pencinta sansevieria yang sadar lingkungan dengan berperan dalam penanganan permasalahan lingkungan hidup, seperti polusi udara yang erat kaitannya dengan pemanasan bumi yang menyebabkan dampak risiko perubahan iklim.

Seperti diketahui pencemar udara dibedakan menjadi dua yaitu, pencemar primer dan pencemar sekunder. Pencemar primer adalah substansi pencemar yang ditimbulkan langsung dari sumber pencemaran udara. Karbon monoksida adalah sebuah contoh dari pencemar udara primer karena ia merupakan hasil dari pembakaran.

Sedangkan pencemar sekunder adalah substansi pencemar yang terbentuk dari reaksi pencemar-pencemar primer di atmosfer. Pembentukan ozon dalam smog fotokimia adalah sebuah contoh dari pencemaran udara sekunder.

Substansi pencemar yang terdapat di udara berdampak terhadap kesehatan manusia. Pasalnya, pencemaran yang ada di udara dapat masuk ke dalam tubuh melalui sistem pernapasan. Jauhnya penetrasi zat pencemar ke dalam tubuh bergantung kepada jenis pencemar.

Partikulat berukuran besar dapat tertahan di saluran pernapasan bagian atas, sedangkan partikulat berukuran kecil dan gas dapat mencapai paru-paru. Dari paru-paru, zat pencemar diserap oleh sistem peredaran darah dan menyebar ke seluruh tubuh.

Dampak kesehatan yang paling umum dijumpai adalah ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), termasuk di antaranya, asma, bronkitis, dan gangguan pernapasan lainnya. Beberapa zat pencemar dikategorikan sebagai toksik dan karsinogenik.

Dampak pencemaran udara di Jakarta yang berkaitan dengan kematian prematur, perawatan rumah sakit, berkurangnya hari kerja efektif, dan ISPA pada tahun 1998 senilai dengan 1,8 trilyun rupiah dan diperkirakan akan meningkat menjadi 4,3 trilyun rupiah di tahun 2015. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita