Jumat, 25 Mei 2012
NTT: Harga Premium di Sabu Mencapai Rp20.000/liter
Minggu, 01 Agustus 2010 03:36
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 1/8 (SIGAP) - Bahan bakar minyak, terutama jenis premium langka di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, akibatnya harga di tingkat pengecer melambung dari Rp5.000 menjadi Rp20.000 per liter.

Kondisi ini menyulitkan masyarakat karena BBM menjadi sulit dijangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah.

Salah seorang tokoh masyarakat Sabu Raijua Nelson Lai Lado yang dikontak dari Kupang, Sabtu (31/7) mengatakan, kelangkaan premium ini berlangsung sejak 2 pekan terakhir, menyusul cuaca buruk di perairan Nusa Tenggara Timur (NTT) beberapa waktu terakhir.

"Kapal Timau yang biasa memasok bahan bakar minyak ke kabupaten bungsu di NTT itu, tidak bisa berlayar dari Kupang, akibat gelombang tinggi dan adanya peringatan terhadap aktivitas pelayaran dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun El Tari Kupang," katanya.

Menurutnya, jika pekan berikut ini tidak ada pasokan, kemungkinan harga premium akan terus meningkat, bahkan mungkin persediaan benar-benar habis, sehingga melumpuhkan jasa transportasi.

Kelangkaan, katanya, tidak hanya terjadi pada premium saja, tetapi juga solar dan minyak tanah, jika tidak ada pasokan baru dalam beberapa hari ke depan.

Sabu Raijua adalah kabupaten "terpencil" di NTT yang terletak di "jantung" Laut Sawu. Wilayah itu terletak jauh dari daratan lain. Satu-satunya alat transportasi yang digunakan untuk memasok BBM ke Sabu adalah menggunakan KM Timau milik Pemerintah Kabupaten Kupang.

Belum lama ini, KM Timau yang baru kembali dari Sabu Raijua, dihantam gelombang dahsyat di perairan sekitar Pulau Rote, sehingga para anak buah kapal (ABK) meminta bantuan SAR Kupang, untuk memberikan pertolongan.

Lai Lado menduga, ada pedagang pengecer nakal yang sengaja memanfaatkan cuaca buruk dengan melakukan penimbunan BBM jenis premium. Saat terjadi kelangkaan, baru dijual dengan harga mahal.

Sebelumnya , cuaca buruk di perairan Laut Arafura dalam beberapa pekan terakhir memicu krisis bahan bakar minyak (BBM) di Kota Timika, Papua. Seperti dilansir ANTARA dari petugas pengawas PT Pertamina di Timika Abdul Gassing, stok premium atau bensin di Timika saat ini hanya bertahan untuk 4 hari ke depan dengan ketahanan stok sekitar 35 ribu kilo liter (KL).

"Saat ini rata-rata suplai premium ke dua SPBU (stasiun pengisian bahan bakar umum) di Timika sebanyak 50.000 sampai 60.000 liter per hari dan suplai ke dua APMS (agen premium minyak dan solar) sebanyak 5.000 liter per dua atau hari," ujar Gassing.

Mengingat kelangkaan BBM di Timika, Pertamina juga mengurangi distribusi BBM ke Kabupaten Asmat dan Yahukimo yang selama ini disuplai dari Timika.

Distribusi BBM ke Asmat selama ini dilayani oleh 2 APMS, sedangkan untuk Yahukimo dilayani oleh 2 pool konsumen.

Gassing mengatakan, persediaan BBM akan kembali normal mulai Rabu (28/7) dengan tibanya kapal tanker jenis LCT Anugerah Perdana 23 yang mengangkut 600 KL premium dan 450 KL solar dari pelabuhan transit BBM di Ambon.

Pihak pengelola kapal juga berencana menambah armada kapal tanker LCT Anugerah Perdana 01 dari Jayapura pada 31 Juli untuk memperbanyak pasokan BBM ke Timika.

Harapannya, NTT juga segera mendapat penanganan cepat. (laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita