Jumat, 25 Mei 2012
Lampung Selatan: Produktivitas Padi Petani Masih Rendah
Sabtu, 31 Juli 2010 08:15
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 31/7 (SIGAP) - Produktivitas padi petani di Kabupaten Lampung Selatan masih rendah, rata-rata 4 hingga 5 ton per hektare, jauh dari target produksi pemerintah setempat 8 ton per hekare pada tahun 2010.

Demikian dikatakan Ahmad Zuhri, salah seorang petani di Desa Pelembapang, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Sabtu (31/7).  "Produksi mencapai lima ton per hektare sudah maksimal bagi petani, itu pun jika kondisi tanaman tidak ada serangan hama, atau gangguan lainnya," katanya.

Zuhri mengatakan, pada panen rendeng (basah) beberapa bulan lalu pasokan air mencukupi dan serangan hama tergolong minim namun kemampuan produksi hanya mencapai jumlah tersebut meskipun dengan perawatan dan pemupukan maksimal.

"Adakalanya hampir mencapai enam ton dengan input usaha tani maksimal, namun sangat jarang sekali mendapatkan dalam jumlah tersebut," katanya.

Zuhri mengatakan, saat musim gadu diperkirakan produksi padi akan lebih menurun karena kemungkinan terserang hama lebih besar jika dibandingkan dengan musim rendeng.

Mahfud, petani di daerah yang sama mengatakan produksi sawah miliknya hanya mencapai pada kisaran 6 ton per hektare, jika dalam kondisi normal tanpa ada serangan hama dan pasokan air mencukupi berikut pemupukan secukupnya.

"Panen lalu produksi gabah kami rata-rata lima ton per hektare," tambah Mahfud.

Mahfud mengatakan, saat ini petani di wilayah itu masih dalam masa tanam dan sebagian masih mengolah sawah karena pasokan air di wilayah tersebut mencukupi sepanjang tahun dari lereng Gunung Rajabasa tanpa henti.

Sebelumnya, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kabupaten Lampung Selatan menargetkan produktivitas panen petani meningkat pada tahun ini dengan rata-rata mencapai 8 hingga 9 ton per hektare dalam bentuk gabah kering panen (GKP).

"Sebagian wilayah sudah ada yang mencapai jumlah itu, namun sebagian belum mencapainya," kata Kadis DPTPH, Edhi Djajus, di Kalianda.

Edhi berharap produkstivitas rata-rata panen petani padi di Kabupaten Lampung Selatan secara bertahap dapat mencapai target tersebut untuk meningkatkan swasembada beras di kabupaten itu.

Pengelolaan Tanaman Terpadu (Integrated Crop Management) atau lebih dikenal PTT pada padi sawah,
merupakan salah satu model atau pendekatan pengelolaan usahatani padi, dengan mengimplementasikan berbagai komponen teknologi budidaya yang memberikan efek sinergis. PTT mengabungkan semua komponen usahatani terpilih yang serasi dan saling komplementer, untuk mendapatkan hasil panen optimal dan kelestarian lingkungan (Sumarno, dkk. 2000). Menurut Sumarno dan Suyamto (1998), bahwa tindakan PTT merupakan good agronomic practices yang antara lain meliputi; penentuan pilihan komoditas adaptif sesuai agroklimat dan musim tanam, varietas unggul adaptif dan benih bermutu tinggi, pengelolaan tanah, air, hara dan tanaman secara optimal, pengendalian hama-penyakit secara terpadu, dan penanganan panen dan pasca panen secara tepat.

Dengan pendekatan pengelolaan usahatani padi secara terpadu, mulai pengelolaan budidaya (persiapan lahan, pesemaian, penanaman, pemupukan, pengaturan air, pengendalian gulma), dan pengelolaan hama penyakit diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi usahatani padi yang selanjutnya memberi dampak terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita