Jumat, 25 Mei 2012
Produksi Garam Nasional Diprediksi Turun 30 Persen
Kamis, 29 Juli 2010 07:01
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 29/7 (SIGAP) - Produksi garam nasional tahun ini diperkirakan turun 30% akibat produksi garam lokal Madura berkurang karena cuaca tidak bersahabat.

Presidium Asosiasi Petani Garam Bahan Baku (Aspegab) Madura, Yoyok R Effendi mengatakan di Pamekasan Kamis (29/7), prediksi penurunan produksi itu terjadi karena produksi garam lokal Madura berkurang akibat sering turun hujan.

"Sampai saat ini petani garam di Madura belum ada yang memproduksi garam. Padahal tahun-tahun sebelumnya memasuki bulan Juli ini petani sudah memproduksi garam hampir dua kali," kata Yoyok.

Madura merupakan pemasok garam terbesar di Indonesia bagi penyediaan garam konsumsi nasional dibanding daerah lain seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sulawesi Selatan.

Rata-rata produksi garam di Madura tidak kurang dari 600.000 ton dengan luas lahan 7.785 hektare. Luas areal ini meliputi 1.767 hektare di Kabupaten Sumenep, 888 hektare di Pamekasan dan seluas 5.130 hektare di Kabupaten Sampang.

Menurut Yoyok, luas areal garam ini belum termasuk lahan milik PT Garam seluas 5.340 hektare yang ada di 3 kabupaten, yakni Sumenep (2.620 hektare), Pamekasan (980 hektare) dan Kabupaten Sampang (1.100 hektare) termasuk di lahan pegaraman IV, Gersik Putih yang juga terletak di Sumenep seluas 640 hektare.

"Jika ditotal luas lahan garam milik petani dengan milik PT Garam mencapai 13.125 hektare dengan total produksi sekitar 900.000 ton per tahun dengan asumsi rata-rata produksi garam per hektare mencapai 70 ton per tahun," tambahnya.

Sementara itu, kebutuhan garam nasional diperkirakan mencapai 1.250.000 ton per tahun khusus untuk kebutuhan garam konsumsi dan 1.600.000 ton per tahun untuk kebutuhan garam industri.

Selama ini, kekurangan kebutuhan garam konsumsi nasional dipenuhi dari hasil produksi garam dari Jawa Tengah, Jawa Barat, NTB, NTT dan Sumatra Selatan sebanyak 350.000 ton. Sedang untuk pemenuhan kebutuhan garam industri pemerintah mengimpor dari Australia dan India.

Menurut Yoyok, akibat cuaca tidak bersahabat sehingga hingga Juli 2010 ini belum ada petani yang memproduksi garam karena selalu turun hujan, maka bisa diperkirakan persediaan garam nasional akan berkurang.

"Jika itu terjadi, maka pemerintah dipastikan akan melakukan impor garam tambahan. Namun kami selaku petani berharap, impor yang akan dilakukan pemerintah tetap memberi ruang keadilan bagi petani garam."

Dirinya berharap impor tetap terkendali sesuai dengan kebutuhan, sehingga harga garam rakyat tetap maksimal.

Yoyok, yang juga Sekretaris Komite Garam Pamekasan menambahkan, jika impor garam melebihi kebutuhan konsumsi garam nasional, hal itu akan berdampak pada harga beli garam rakyat juga akan murah.

"Garam impor itu kan harganya lebih murah. Tolong hal ini juga diperhatikan oleh pemerintah," kata Yoyok.

Dalam catatan SIGAP, peluang dan potensi pasar garam masih sangat besar. Tentu saja daerah-daerah yang memiliki potensi pengembangan garam mampu menjadikan garam sebagai nilai lebih investasi daerah dan strategi peningkatan pendapatan asli daerah.

Seperti di Brebes Jateng, potensi garam beriodium di Kabupaten Brebes sangat potensial untuk dikembangkan dan untuk berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pengembangan investasi dibidang industri pengolahan garam.

Potensi lokasi mudah dijangkau di daerah Pantura yaitu di wilayah Kecamatan Wanasari, Tanjung dan Losari.

Pada tahun 1997 kebutuhan garam sebesar 1.650.000 ton, tahun 1998 meningkat menjadi sebesar 1.825.000 ton, tahun 1999 sebesar 1.935.000 ton dan tahun 2000 meningkat menjadi sebesar 2.100.000 ton. Dari total kebutuhan tersebut sekitar 41% merupakan kebutuhan garam konsumsi dan 59% untuk memenuhi kebutuhan garam industri.

Pengembangan industri garam yang bermutu, masih sangat prospektif dan mempunyai lahan yang cukup luas yaitu sekitar 50 hektare dengan tenaga kerja sebanyak 10 orang teknis dan 160 orang tenaga langsung.

Diera sekarang ini,  data dan informasi peluang penanaman modal yang baik, penyediaan sarana dan prasarana yang sudah ada, juga insentif lainnya merupakan strategi pemasaran yang dibutuhkan investor. (laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita