Jumat, 25 Mei 2012
Warga Lebak Diminta Waspada Banjir
Rabu, 28 Juli 2010 05:53
AddThis Social Bookmark Button

 

Jakarta, 28/7 (SIGAP) - Warga Kabupaten Lebak, Banten diminta mewaspadai bencana banjir dan longsoran tanah menyusul tingginya curah hujan sejak 2 hari lalu di wilayah tersebut.

"Kami minta warga yang tinggal di daerah rawan banjir dan longsoran untuk waspada," kata Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Lebak Alkadri di Rangkasbitung.

Alkadri mengatakan, pihaknya berharap warga selalu waspada terhadap bencana banjir dan longsor karena topografi wilayah Kabupaten Lebak berbukit terjal serta pegunungan.  Selain itu juga wilayah Kabupaten Lebak memiliki 8 daerah aliran sungai (DAS) yang sewaktu-waktu bisa menimbulkan bencana banjir.

Kondisi demikian, tentu sangat berpotensi terjadinya banjir dan longsoran tanah, terlebih sejak 2 hari curah hujan meningkat  yang mengakibatkan puluhan rumah terendam banjir di Kecamatan Cibadak, Selasa (27/7).

Alkadri menjelaskan, saat ini daerah rawan banjir di antaranya Kecamatan Wanasalam, Banjarsari, Rangkasbitung, Warunggunung, Cileles, Cibadak, dan Leuwidamar.  Sedangkan, daerah rawan terjadi longsoran tanah seperti Kecamatan Bayah, Cikulur, Cimarga, Kalanganyar, Sobang, Cibeber, Cilograng, dan Sajira karena wilayahnya berada di dataran tinggi.

Karena itu, warga yang tinggal di sekitar bantaran Sungai Ciujung, Ciberang, Cimadur, Cihara, Cilemer, Cidurian, dan Cisimeut diminta waspada jika hujan terjadi terus menerus.

Berdasarkan laporan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Serang, curah hujan intensitas tinggi masih akan terjadi hingga awal Agustus.  "Saya kira dengan waspada ini tentu bisa mencegah musibah bencana alam itu," katanya.

Menanggapi peringatan tersebut, Nanang, warga Lebak mengatakan tidak meragukan kewaspadaan warga. “Umumnya mereka terbiasa dengan beragam bencana. Namun yang jauh lebih penting adalah komitmen pemerintah jika bencana benar-benar terjadi, “ kata Nanang kepada SIGAP, Rabu (28/7).

Terkait soal komitmen pemerintah yang dimaksud, Nanang menjelaskan, “Menyediakan peralatan yang dibutuhkan, seperti perahu karet dan perahu dolpin dan alat-alat lainnya jika banjir melanda, untuk mengevakuasi korban. Bantuan dana, kebutuhan pangan, dan obat-obatan.” Pasalnya, selama ini menurut mantan jurnalis ini , pemerintah cenderung lamban memberikan bantuan ketika bencana datang.

Nanang menambahkan, langkah preventif pun perlu juga dilakukan pemerintah, misalnya memperbaiki kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) di Lebak.  Atau menggerakkan penghijauan di daerah-daerah rawan bencana banjir dan longsor.  “Ini justru yang lebih penting dilakukan pemerintah,”tegas Nanang.  (laporan sofyan badrie /ant)

 

 

Arsip Berita