Jumat, 25 Mei 2012
Produksi Madu Hutan Lampung Barat Menurun
Selasa, 27 Juli 2010 09:15
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 27/7 (SIGAP) - Musim penghujan picu menurunnya produksi madu hutan Kabupaten Lampung Barat, akibatnya harga madu hutan naik berkisar Rp5.000 hingga Rp10.000 per botolnya.

"Tingginya curah hujan di Lampung Barat membuat pemburu madu mengalami kesulitan mendapatkan madu hutan, sehingga pasokan madu hutan berkurang, membuat harga madu hutan naik," kata pemburu madu hutan yang berada di Pekon (Desa) Simpang Sari, Kecamatan Sumberjaya, Lampung Barat, Kalino (43) sekitar 245 Km sebelah barat Bandarlampung, di Simpang Sari, Senin.

Kalino menjelaskan, madu hutan yang ada di pohon cukup sulit dipanjat akibat pohon tersebut licin.

"Kalaupun ada madu yang akan diambil pohonnya sangat tinggi, selain itu licin, sehingga saya tidak berani untuk mengambilnya, yang ditakutkan dapat beresiko terjatuh," katanya.

"Kondisi seperti ini jelas akan mengurangi pendapatan saya, bahkan dalam satu minggu untuk mendapatkan 10 botol madu cukup sulit," katanya.

Akibat tingginya curah hujan di wilayah Lampung Barat, produksi madu hutan berkurang, hingga 20%  lebih.

Pemburu madu biasanya memanen madu yang berasal dari hutan lindung yang ada di daerah ini. Akan tetapi saat curah hujan tinggi, pemburu madu tidak mendapatkan hasil madu dengan maksimal, sehingga pasokan madu di pasaran berkurang membuat harga madu naik.

Saat cuaca sedang baik, pemburu madu hutan mampu mendapatkan madu hingga 15 botol bahkan lebih, akan tetapi saat kondisi seperti ini, pemburu madu hanya mendapatkan 5 hingga 7  botol madu, itu pun harus menunggu 1 minggu.

Madu hutan menjadi salah satu produk unggulan Kabupaten Lampung Barat, pasalnya di daerah ini terdapat luas hutan mencapai 28 ribu yang didalamnya terdapat potensi madu hutan yang unggul.

Kualitas madu hutan dari Lampung Barat tergantung dari warna dan kekentalan madu, semakin gelap warna madu tersebut maka kualitasnya semakin baik.

Harga madu hutan di pasaran bervariasi, untuk ukuran botol kecil Rp35.000, botol sedang Rp70.000 dan botol sedang Rp100.000 per botol.

Sementara itu pedagang madu yang berada di Kecamatan Way Tenong, Lampung Barat, Tina Suwondo (36) sekitar 253 Km dari Bandarlampung, mengatakan, penjualan madu hutan cukup stabil.

"Walaupun harga madu hutan naik, tidak mengurangi omsed penjualan pedagang, semua berjalan lancar sesuai dengan hari biasanya, tetapi yang dikeluhkan pedagang yakni pasokan madu hutan berkurang," katanya.

Dirinya menjelaskan, manfaat madu hutan cukup besar. "Karena madu hutan memiliki khasiat, walaupun harga madu naik, tidak berpengaruh sekali bagi pelanggan membeli, karena mereka telah membuktikan khasiatnya,` kata pedagang itu.

Tina menuturkan, permintaan madu hutan akan meningkat saat Bulan Ramadhan.

"Saat Bulan Ramadhan nanti penjualan madu hutan melonjak, sehingga pedagang menyiasatinya dengan memesan madu hutan di berbagai kecamatan, sehingga stok madu dapat tercukupi hingga akhir Bulan Ramadhan nanti," katanya.

SIGAP mencatat, madu dalam konsentrasi 30% hingga 50% fungsinya jauh lebih baik dari obat antibiotik. Madu kental menghentikan pertumbuhan bakteri Candida alba. Madu yang mengencer hingga 40% menjadi bersifat bacteridal (pembunuh bakteri), sehingga mampu berperan sebagai anti bakteri dan anti jamur. Madu ampuh melawan Salmonela shigela, E. Coli dan Vibrio cholera penyebab penyakit kolera yang telah merenggut jutaan penduduk dunia.

Madu dapat mengobati luka infeksi setelah operasi, borok, obat untuk terapi pasca operasi pasien kanker vulva, luka jahitan dan pencangkokan kulit.  Selain itu, madu memperpendek masa hidup bakteri diare pada balita.

Sebagai obat luka, madu mampu menyerap air pada luka, sehingga mencegah infeksi dan memperbaiki jaringan dengan cepat. Madu menembus luka dalam, dan membantu pembentukan butiran jaringan baru.

Madu menghentikan pertumbuhan organisme patogen pada pasien infeksi saluran kencing.

Karena mengandung gula yang cepat diserap oleh sistem pencernaan, madu adalah sumber energi instan. (laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita