Jumat, 25 Mei 2012
Permintaan Konsumsi Jagung Mulai Meningkat
Selasa, 27 Juli 2010 06:40
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 27/7 (SIGAP) - Permintaan konsumsi jagung saat ini mulai mengalami peningkatan, kata Kepala Balai Penelitian Tanaman Serealia (Balitsereal), Muhammad Yasin Said, di Maros, Senin (27/7).

"Konsumsi jagung tidak hanya untuk pangan, namun juga pakan dan industri. Hingga saat ini, volume permintaan jagung untuk pakan telah mencapai 50 persen dari total kebutuhan," kata Yasin.

Permintaan jagung untuk bahan pangan juga mengalami peningkatan, dimana di beberapa daerah jagung sudah dijadikan sebagai bahan pangan tradisional. "Untuk memenuhi permintaan konsumsi tersebut, masih dapat dilakukan peningkatan produksi melalui perluasan areal tanam dan peningkatan produktivitas," jelasnya.

Dijelaskan Yasin, diperlukan penerapan inovasi teknologi varietas jagung. "Bentuk penerapan inovasi teknologi bisa berupa penciptaan varietas unggul, teknik budi daya, pengendalian hama dan penyakit tanaman berwawasan lingkungan," ungkap Yasin.

Sedangkan untuk peningkatan produktivitas, pihaknya telah menghasilkan inovasi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) jagung. "Inovasi PTT ini sudah dilakukan dan berkembang di beberapa sentra produksi jagung," ungkapnya. Dikatakannya, masyarakat memang tidak bisa hanya mengandalkan beras sebagai satu-satunya bahan pangan pokok, mengingat perubahan iklim global yang mengancam hasil produksi beras.

"Dengan dikeluarkannya berbagai inovasi varietas jagung terbaru, permintaan konsumsi jagung bisa terus mengalami peningkatan," tandasnya. Menurutnya, diversifikasi pangan berbasis jagung merupakan solusi dalam mewujudkan kemandirian pangan.

Dalam catatan SIGAP, selain diversifikasi dibutuhkan juga peningkatan produksi pangan, dan pengaturan distribusi pangan yang lebih baik.

Pengaturan distribusi pangan harus diperbaiki, sebab selama ini masyarakat menganggap biasanya terjadi kenaikan harga pada bulan Desember. Sebenarnya, produksi beras di bulan Oktober, November, dan Januari lebih kecil daripada kebutuhan nasional, sedangkan panen pada Februari-September produksi berlebih. (laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita