Jumat, 25 Mei 2012
RSUP Sanglah Buka Poli Pengobatan Herbal
Minggu, 25 Juli 2010 14:48
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 25/7 (SIGAP) - Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, Denpasar, membuka poli pengobatan herbal dengan fasilitas apotek yang menyediakan 40 item obat dari tumbuhan berkhasiat itu.

"Kami menerapkan pola pengobatan herbal yang sinergis dan terintegrasi dengan pengobatan modern," kata Direktur Utama RSUP Sanglah dr. I Wayan Sutarga, MPHM pada seminar "Perkembangan Herbal dan Penggunaannya dalam Bidang Kesehatan" di Denpasar, Sabtu (24/7).

"Pengobatan herbal jamu harus dikemas dengan bagus dan tidak boleh lagi sebagai alternatif jika pengobatan dengan obat modern gagal, tapi prinsipnya adalah sinergitas. Herbal jamu ini adalah kekayaan bangsa yang harus kita gali dan kita hargai," katanya.

Dirinya mengemukakan, bahwa saat ini apotek di rumah sakit milik pemerintah terbesar di Bali ini sudah menyediakan 40 item obat herbal.

Dari jumlah itu, katanya, sebanyak 4 jenis herbal dijual bebas, sementara 36 jenis lainnya dijual dengan menggunakan resep dokter.

"Dalam enam bulan, omzet penjualan obat herbal jamu di apotek ini mencapai Rp90 juta," katanya.

Dirinya mengajak kalangan medis di RSUP Sanglah untuk terus mengembangkan pengobatan herbal dengan melakukan berbagai penelitian.

Apalagi, katanya, Bali sendiri memiliki pola pengobatan tradisional tersebut yang dikenal dengan nama ayur wedic atau ayur weda.

"Mari kita menjalin kerja sama dengan berbagai pihak untuk mengembangkan pengoabatan herbal ini, termasuk dengan perguruan tinggi yang sudah membuka jurusan pengobatan dengan ayur wedic ini," katanya.

"Kami bangga atas peningkatan status jamu menjadi obat herbal terstandar dan merupakan sebuah kemajuan bagi industri jamu karena telah diakui secara resmi oleh pemerintah. Bagi konsumen sendiri, hal ini akan menjadi jaminan untuk khasiat dan keamanannya," ujarnya.

Dirinya mengemukakan, bahwa pihaknya telah melakukan uji toksisitas dengan tim Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta bahwa minum Tolak Angin dalam jangka panjang tidak menimbulkan efek samping jika diminum sesuai dosis.

Sebelumnya, melalui kompas,  Menteri Kesehatan Endang Rahayu  Sedyaningsih, saintifikasi berguna untuk menempatkan industri jamu sebagai tuan rumah di negeri sendiri.

“Dalam waktu dekat akan keluar permenkes yang mengatur saintifikasi, sertifikasi dokter, dan distribusi jamu yang lolos saintifikasi,” kata Menkes pada  Seminar dan Pameran Saintifikasi Jamu di Kabupaten Kendal, Rabu (6/1/2010).

Menkes mengatakan, pemerintah akan mengajak para stakeholder, seperti GP Jamu, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dan akademisi, serta masyarakat dalam pengujian ilmiah jamu tersebut. “Nanti, dana penelitiannya ditanggung renteng antara pemerintah, pemkab, dan industri,” ujar Menkes.

Pemerintah berupaya melakukan saintifikasi terhadap jamu dengan melibatkan para dokter melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan. Upaya itu guna mengangkat dan memperluas penggunaan jamu di masyarakat. Program saintifikasi itu dicanangkan oleh Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Rabu (6/1).

Endang mengatakan, di tengah masih mahalnya harga obat karena, antara lain, 95% bahan bakunya masih impor, jamu yang asli Indonesia dapat menjadi alternatif menjaga kesehatan terutama untuk tindakan preventif, promotif, rehabilitatif, dan paliatif.

Lebih lanjut, lewat saintifikasi jamu tersebut diharapkan terkumpul bukti-bukti ilmiah tentang khasiat jamu. Saintifikasi jamu merupakan proses penelitian berbasis pelayanan kesehatan. (laporan wa prasetya/ant)


 

Arsip Berita