Jumat, 25 Mei 2012
Litbang Kemenkes: Dokter Kurang Peduli Pada Jamu
Minggu, 25 Juli 2010 14:40
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 25/7 (SIGAP) - Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan pada Kementerian Kesehatan, Agus Purwadianto, mengemukakan bahwa perkembangan jamu di Indonesia kurang maju karena banyak dokter yang kurang peduli.

"Selama ini dokter selalu `memenangkan` obat modern. Padahal tidak selamanya obat modern berfungsi dengan baik untuk menyembuhkan suatu penyakit," katanya kepada wartawan di sela-sela seminar "Perkembangan Herbal dan Penggunaannya dalam Bidang Kesehatan" di Denpasar, Sabtu (24/7).

Pada seminar yang digelar Tolak Angin bersama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Bali itu Agus mengemukakan, bahwa memang tidak mudah mengubah paradigma berpikir para dokter yang selama ini dididik dengan kedokteran barat.

"Jamu selama ini kurang berakar di kalangan medis, sementara di sisi lain masyarakat menghendaki pengobatan yang kembali ke alam, yakni dengan pilihan-pilihan herbal berupa jamu," kata lelaki yang juga Ketua Majelis Kehormatan Etika Kedokteran (MKEK) IDI pusat ini.

Menurut Agus, seharusnya jamu yang sudah diwariskan secara temurun di kalangan masyarakat Indonesia ditempatkan sebagai komponen utama dalam pemeliharaan kesehatan di kalangan medis.

Untuk lebih memasyarakatkan penggunaan jamu di kalangan medis, katanya, pihaknya akan memberikan pelatihan-pelatihan kepada kalangan dokter mengenai dunia herbal.

"Membangun sistem ini memang tidak mudah. Mimpi kita adalah akan banyak fakultas kedokteran yang membuka program studi dengan pengobatan timur. Jamu nantinya harus menjadi primadona dalam pengobatan," katanya.

Mengenai khasiat jamu-jamu tradisional, kata Agus, saat ini sudah banyak dilakukan penelitian oleh perguruan tinggi dan Kantor Kemenkes hanya tinggal mengembangkan atau mengolah kembali hasil penelitian tersebut.

Sementara itu, rumah sakit di Indonesia yang saat ini sudah membuka poli herbal sudah ada sekitar 12 rumah sakit.

Dirinya berharap lewat pembukaan poli itu nantinya akan banyak ahli dan dosen yang mendalami ilmu tentang obat herbal.

Manajer Produk Grup Tolak Angin Retna Wisawati mengemukakan bahwa pihaknya terus menyosialisasikan penggunaan herbal kepada masyarakat lewat berbagai kegiatan, seperti di Bogor, Semarang, Banjarmasin, Yogyakarta, Medan, Lampung, Bandung, Pekanbaru, dan Jakarta.

"Kami bangga atas peningkatan status jamu menjadi obat herbal terstandar dan merupakan sebuah kemajuan bagi industri jamu karena telah diakui secara resmi oleh pemerintah. Bagi konsumen sendiri, hal ini akan menjadi jaminan untuk khasiat dan keamanannya," ujarnya.

Seperti diberitakan, Kominfo-Newsroom, Industri jamu Indonesia sampai saat ini telah menyerap tenaga kerja sampai 15 juta orang, tiga juta diantaranya terserap di industri jamu dan 12 juta lainnya terserap di industri jamu yang berkembang ke arah makanan, minuman, food supplement, spa, aroma terapi, dan kosmetik.

Omzet jamu Indonesia tahun 2009 mencapai Rp8,5 triliun dan diperkirakan sampai dengan akhir tahun 2010 akan mencapai Rp10 triliun, kata Ketua Umum DPP Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP Jamu) Dr. Charles Saerang pada acara rapat dengar pendapat dengan Komisi IX DPR RI di Jakarta, April lalu. (laporan wa prasetya).

 

Arsip Berita