Jumat, 25 Mei 2012
Sumbar Akan Bentuk Forum Pengurangan Resiko Bencana
Sabtu, 24 Juli 2010 05:37
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 24/7 (SIGAP) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat (Sumbar) akan melaksanakan silaturahmi dengan semua pihak terkait dengan kebencanaan di daerah ini guna membentuk Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Sumbar yang definitif.

Rencananya pelaksanaan silaturahmi ini dilangsungkan di Padang, Senin 26 Juli 2010. Peserta silaturahmi berjumlah 100 orang utusan dari unsur pemerintah, perguruan tinggi, LSM, ormas, media massa dan dunia usaha di Sumbar.

Kepala Pelaksana BPBD Sumbar, Harmensyah, Sabtu (24/7) menjelaskan, pembentukan FPRB ini merupakan satu rekomendasi yang disarankan dalam konferensi dunia tentang pengurangan bencana dan disepakati 168 dunia di Kobe, Jepang awal 2005, dimana Indonesia juga ikut didalamnya.

Harmensyah berpendapat, sebelum FPRB definitif dibentuk akan ditetapkan platfon forum ini sebagai lembaga nonformal dalam satu mekanisme multi pemangku kepentingan yang bertindak sebagai penganjur pengurangan resiko bencana di berbagai tataran.

Platfon ini dapat memberikan koordinasi, analisis dan saran tentang bidang-bidang prioritas yang memerlukan tindakan terpadu dalam pengurangan resiko bencana melalui kebijakan terencana dan program pembangunan yang disesuaikan dengan pelaksnaan kerangka aski Hyugo, jelas Harmensyah.

Selain itu, lahirnya UU No.24/2007 tentang penanggulangan bencana, membuat upaya pengurangan resiko bencana menjadi suatu agenda pembangunan melibatkan proses-proses yang komplek dan memerlukan perpaduan yang baik dari banyak pihak.

Perpaduan yang diharapkan adalah antara norma dan standar internasional, prioritas nasional dan kearifan lokal, katanya.

Sebelumnya berdasarkan catatan SIGAP,  Jaringan Jurnalis Siaga Bencana (JJSB) Indonesia mendesak Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan kabupaten/kota se-Sumbar membuat peta wilayah berpotensi bencana, mengingat daerah ini rawan gempa dan tsunami.

Berdasarkan sejarah dan hasil penelitian para ahli diantaranya Prof. Kerry Sieh dan Dr. Danny Natawidjaya Peneliti, Sumbar merupakan daerah dengan risiko dan potensi tsunami tinggi. Berdasarkan penelitian itu, bencana gelombang tsunami menghantam Pulau Sumatera setiap 200 tahun, dan Sumbar mempunyai potensi risiko tinggi jika musibah itu terjadi.

Selain itu para peneliti mengungkapkan Sumbar, terutama Kota Padang, dalam sejarah telah 2  kali dilanda gelombang tsunami, yakni pada tahun 1604 dan 1833. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita