Jumat, 25 Mei 2012
Petani Diminta Patuhi Pola Tanam Musim Kemarau
Kamis, 22 Juli 2010 02:47
AddThis Social Bookmark Button

 

Jakarta, 22/7 (SIGAP) - Petani di daerah Kabupaten Ngawi, Jatim, diminta untuk mematuhi pola tanam selama musim tanam kemarau (MK) yang saat ini mulai berlangsung, guna menghindari kerugian akibat kekeringan.

 

Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Kabupaten Ngawi, Sutrisno, Selasa, mengatakan, pola tanam yang dianjurkan oleh pemerintah selama musim tanam kemarau adalah, padi - padi - palawija.

"Harus ada perubahan pola tanam dari padi-padi-padi ke padi-padi-palawija selama musim kemarau. Ini dilakukan agar ancaman kerugian petani karena sawah puso dapat ditekan. Diharapkan petani bersedia mematuhinya dengan menanam varietas tanaman yang tahan kering," ujarnya.

Menurutnya, tidak mudah mengganti pandangan para petani untuk merubah sistem pola tanam dan meninggalkan padi sementara waktu. Mereka selalu ingin menanam padi, walaupun kondisi ketersediaan air sedang minim di saat kemarau.

"Hal inilah yang harus diubah secara perlahan-lahan. Tidak mudah meminta petani untuk tidak menanam padi pada musim seperti saat ini. Sebagian petani masih ada saja yang menanam padi," tuturnya.

Meski demikian pihaknya mengaku tidak dapat memaksa, karena itu merupakan kemauan dari petani sendiri. Pihak Dinas Pertanian hanya memberikan anjuran, disamping langkah-langkah lain untuk antisipasi mengurangi kerugian akibat kekeringan.

Disamping perubahan pola tanam, dinas pertanian juga memberikan penyuluhan tentang pengetahuan iklim. Sehingga dengan mengetahui siklus iklim, diharapkan petani sadar dan mematuhi anjuran pemerintah untuk mengubah pola tanam tersebut.

"Diakui akibat anomali cuaca saat ini telah berpengaruh pada produksi padi pada musim tanam sebelumnya. Tercatat telah terjadi penurunan 15 hingga 20 persen akibat cuaca yang tidak menentu tersebut," ujar Sutrisno.

Karenanya, guna menghindari kerugian yang lebih besar, pihaknya memperkirakan sepertiga dari luas lahan pertanian di Ngawi yang mencapai 50 ribu hektare lebih, akan ditanami padi. Sedangkan sisanya, dianjurkan untuk ditanami palawija.

Sepertiga wilayah yang ditanami padi tersebut merupakan wilayah yang telah teraliri irigasi pemerintah. Sehingga ketersediaan air dipastikan cukup untuk kebutuhan pengairan selama musim kemarau.

Sementara, guna mendukung pola tanam palawija di wilayahnya, Dinas Pertanian setempat telah membagikan bantuan bibit jagung hibrida dan kedelai untuk penanaman sekitar 5.000 hektare lebih. Bantuan tersebut diberikan ke sejumlah kelompok tani yang berada di daerah rawan kering di Ngawi.

Daerah Ngawi yang tergolong rawan kekeringan meliputi, Kecamatan Kendal, Bringin, Karanganyar, dan Widodaren yang terletak di tepian hutan.

Data dari Dinas Pertanian Kabupaten Ngawi menyebutkan, luas areal pertanian Kabupaten Ngawi mencapai 50.568 hektare dengan produksi beras per tahun rata-rata mencapai 638.659 ton gabah kering giling (GKG).

Kondisi ini terjadi di sejumlah tempat di Indonesia. Akibatnya adalah, harga yang meranjak naik untuk komoditas tertentu.

Selain itu, dalam pantauan SIGAP, banyak terjadi kerusakan infrastruktur jalan, yang disebabkan oleh perubahan cuaca. Hal ini berakibat pada terganggunya distribusi komoditas perkebunan pertanian, yang mempengaruhi kenaikan harga. (laporan wa prasetya)

 

 

Arsip Berita