Jumat, 25 Mei 2012
Warga Sulut Harus Waspadai Perubahan Cuaca
Rabu, 21 Juli 2010 08:57
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 21/7 (SIGAP) - Kondisi cuaca yang terkadang hujan kemudian panas yang terik harus diwaspadai masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) karena ini rawan bagi munculnya penyakit bagi yang memiliki daya tahan tubuh rendah.
"Cuaca yang kadang panas sekali kemudian mendadak hujan yang sering terjadi saat ini harus diwaspadai karena banyak timbul penyakit," kata Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kayuwatu, Sukisno SP melalui juru bicaranya, Lukman Nur Hakim, Selasa.

Menurut Lukman, sekarang ini seharusnya sudah musim kemarau namun sifatnya kemarau basah, ini disebabkan kondisi suhu muka laut di wilayah perairan Indonesia yang masih hangat berkisar 29-30 derajat celcius dan aktifitas La Nina yang bersifat lemah menyebabkan musim kemarau tahun 2010 bersifat normal hingga di atas normal atau biasa disebut kemarau basah.

“Sehingga akumulasi curah hujan bulanan di Sulut akan lebih tinggi dari rata-ratanya," katanya.

Hingga bulan depan, kata Lukman, prakiraan sifat hujan di Sulawesi Utara (Sulut) secara umum akan berlangsung normal dengan curah hujan berkisar antara 51 hingga 300 mm.

"Curah hujan di atas 300 milimeter diprakirakan terjadi di Bolaang Uki sedangkan curah hujan dibawah 51 mm diprakirakan terjadi di Kakas, Kema I, Tumpaan dan Kotabunan," ujar Lukman Nur Hakim.

Sementara kondisi curah hujan atas normal diprakirakan terjadi di Paniki Atas, Sam Ratulangi, Pandu, Bitung, Aertembaga, Danowudu, Kakas, Tanawangko, Airmadidi, Likupang, Wori, Tatelu, Kema I, tenga, Modoinding, Tumpaan, Mongkonai, Naha, Tahuna, Melonguane dan Tagulandang. Kondisi seperti ini kata Lukman, meski tak menguntungkan bagi kesehatan, namun dinilai baik bagi para petani untuk bercocok tanam. Meski di sisi lain kurang menguntungkan bagi pet ani cengkih yang sedang melakukan penjemuran.

"Petani cengkih itu kan sedang membutuhkan cuaca panas untuk pengeringan saat penjemuran tapi seringkali karena cuaca mendadak hujan," ujarnya.

Seperti diketahui, kenaikan harga-harga komoditas juga diakibatkan karena terjadinya gagal panen yang berdampak pada kurangnya pasokan dipasaran.

Sementara masa bercocok tanam tidak mendapat masukan yang cukup dari informasi perubahan iklim. (laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita