Jumat, 25 Mei 2012
Menperin: 2025 Indonesia Jadi Basis Produksi Otomotif
Selasa, 20 Juli 2010 06:02
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 20/7 (ANTARA) - Menteri Perindustrian MS Hidayat merasa optimistis Indonesia mampu mencapai target menjadikan basis produksi otomotif yang kuat pada tahun 2025. 

"Antusiasme produsen otomotif di Indonesia cukup besar. Mereka sendiri yang menyampaikan pada saya bahwa akan mempertimbangkan Indonesia sebagai basis produksi mereka, karena itu saya melihat pada 2025 mimpi kita sebagai basis produksi rasanya semakin nyata," kata MS Hidayat kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

MS Hidayat menegaskan bahwa posisi geografis Indonesia yang mudah menjangkau negara-negara lain di dunia menjadi perhitungan tersendiri bagi prinsipal otomotif dunia.

Efisiensi biaya produksi hingga distribusi menjadi pertimbangan bagi setiap produsen otomotif, karena itu lokasi pabrik juga menjadi perhatian mereka.

Mantan Ketua Kadin ini membenarkan bahwa masih ada beberapa hal pendukung yang perlu dibenahi oleh pemerintah agar biaya produksi industri otomotif di tanah air dapat ditekan, sehingga daya saing produksi di dalam negeri semakin meningkat.

Secara kualitatif, pemerintah menargetkan agar Indonesia dapat menjadi basis produksi jenis kendaraan "multi purpose vehicle" (MPV), "sport utility vehicle" (SUV), small economical sedan, truk komersial diatas 24 ton, medium size sedan, mobil hybrid, dan mobil premium di tahun 2025.

Pemerintah juga menargetkan dapat melakukan 80%desain motor mesin 4W untuk medium size sedan, memproduksi komponen berkualitas untuk kendaraan premium, dan menjadi suplier dari komponen kendaraan premium.

Hidayat menambahkan, dari segi ketersediaan sumber daya manusia (SDM) untuk mendukung perkembangan Indonesia sebagai basis produksi otomotif bukan sesuatu yang mengkhawatirkan mengingat kalangan industri otomotif telah mengakui bakat dan talenta SDM Indonesia.

"Sekarang ini ekspor otomotif ke mancanegara ditangani langsung oleh tenaga-tenaga ahli Indonesia," tambahnya.

Karena itu, Hidayat berjanji akan tetap mendukung berkembangnya tenaga-tenaga kerja maupun tenaga ahli otomotif di tanah air, termasuk selalu mendata keberadaan desainer-desainer muda otomotif yang biasa muncul dari Perguruan Tinggi. "Itu tugas Dirjen saya untuk mendeteksi desain-desain baru yang inovatif dari anak bangsa," katanya.

Dirinya menambahkan, pemerintah tidak mempermasalahkan siapa yang akan memproduksi produk-produk inovatif tersebut karena hal yang terpenting adalah produk dapat diterima masyarakat, harga terjangkau, dan menggunakan teknologi handal.

"Tidak masalah siapa produsennya apakah dari Jepang atau Korea yang terpenting diterima masyarakat," katanya.

Saat ini, pemerintah mengharapkan negara-negara Eropa tetap melihat Indonesia sebagai basis produksi untuk ASEAN dan Asia Timur. Demikian menurut Direktur Jenderal Industri Alat transportasi dan telematika (IATT) Departemen Perindustrian, Budi Darmadi, di Jakarta, kepada KAPANLAGI.COM beberapa waktu lalu..

Menurut Budi, negara Eropa produsen otomotif seperti Jerman sudah mempunyai pengalaman yang cukup banyak di Indonesia.

Dengan pengalaman-pengalaman tersebut secara otomatis mereka mengenal dengan baik pasar domestik di Tanah Air.

"Kalau itu bisa ditingkatkan maka Indonesia bisa menjadi basis produksi peralatan otomotif termasuk mobil setir kanan," terangnya.

Apalagi dengan era FTA (Free Trade Agreement), produk-produk tersebut dapat leluasa masuk ke pasar yang lebih luas.

"Kita sudah mempunyai FTA dengan Australia, ini juga potensi agar kita bisa masuk ke sana," jelasnya. (laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita