Jumat, 25 Mei 2012
Makasar : RS Sayang Rakyat Nantikan Tenaga Medis
Senin, 19 Juli 2010 06:26
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 19/7 (SIGAP)- Rumah Sakit Sayang Rakyat, Makasar, Sulawesi Selatan sedang menunggu jumlah tenaga medis yang akan bekerja di Rumah Sakit tersebut.

"Tenaga medis tersebut berasal dari sejumlah rumah sakit dan balai kesehatan," demikian menurut Direktur RS Sayang Rakyat Makassar, dr Kasmawati, di Makassar, Sabtu.

Tenaga kesehatan yang dimaksud berasal dari RS Jiwa Makassar, dimana akan ditempatkan di RS Sayang Rakyat sebanyak 50 orang, sedang dari RS Labuang Baji sebanyak 21 orang.

Selain itu, ada pula dari Balai Pengobatan Kulit dan Kelamin sebanyak 5 orang, dan Balai Kesehatan sebanyak 4 orang.

Dikatakannya, keseluruhan jumlah tenaga medis tersebut terdiri dari dokter dan perawat.

"Saya juga belum mengetahui rincian jumlah dokter dan perawat yang akan dikirim untuk bekerja di sini," ucapnya.

Menurut dr kasmawati, proses perpindahan tenaga medis tersebut masih menunggu proses dari Badan Kepegawaian Daerah (BKD).

"Jika prosesnya bisa dilakukan dengan cepat, maka tenaga medis yang bersangkutan bisa segera bekerja di rumah sakit ini," ujarnya.

Saat ini, RS Sayang Rakyat hanya memiliki 12 dokter, yang terdiri dari dokter gigi sebanyak 6 orang, dokter anak sebanyak 1 orang, ontopedi, dokter ahli bedah, dan dokter THT.

Sedangkan, jumlah perawat yang bekerja di rumah sakit tersebut baru mencapai sekitar 100 orang.

"Untuk saat ini jumlah tenaga medis tersebut masih cukup memadai, karena rumah sakit ini  baru beroperasi," terangnya.

Dalam pantauan SIGAP, dengan adanya gap yang begitu lebar antara penawaran dan permintaan, pelayanan kesehatan dengan orang sakit, dirasa membutuhan terobosan kebijakan kesehatan di sisi SDM.

Dari sisi suplai SDM yang terbatas, terbatas tidak saja berkaitan dengan kapasitas produksi tetapi juga berkaitan dengan strategi deployment (penempatan).

Suplai SDM dokter dimana produksi dokter dari 64 Fakultas Kedokteran masih belum memenuhi kebutuhan di daerah yang memang sangat tinggi.

Kebijakan penempatan nampaknya mesti di perkuat visi dan misi, dengan model kewajiban, model kompensasi, atau model himbauan.

Masing-masing akan memberi konsekwensi strategis, termasuk strategi mencetak tenaga medis yang ditingkatkan terus setiap tahunnya. (laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita