Jumat, 25 Mei 2012
Petani Terancam Gagal Panen
Senin, 19 Juli 2010 04:46
AddThis Social Bookmark Button

 

Jakarta, 19/7 (SIGAP) – Ratusan hektare sawah milik petani di beberapa desa di Kecamatan Rorowatu dan Kecamatan Rumbia, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, gagal panen akibat terendam air setelah hujan deras mengguyur daerah itu selama dua pekan terakhir.

 

Berdasarkan pantauan ANTARA, Senin (19/7), desa yang terlanda banjir itu yakni Desa Lombakasi dan Desa Lantari, Kecamatan Rarowatu, serta Desa Lameroro, Sanggona, Lampopala dan Doule, Kecamatan Rumbia.

Selain itu, terlihat sawah yang semuanya sudah menguning dan siap panen itu, roboh tak bisa diselamatkan oleh pemiliknya akibat derasnya hujan yang melanda wilayah tersebut.

Bahkan puluhan hektare sawah yang ada di poros jalan yang sudah dipanen masih tampak tergeletak di tengah sawah, tak sempat diselamatkan, karena sudah tertimbun lumpur sehingga petani membiarkan begitu saja.

Akibatnya, padi yang belum terpisah dari batangnya itu, sudah banyak yang ditumbuhi tunas baru sehingga petani membiarkan begitu saja karena sudah tak berdaya dan tak mampu lagi memisahkannya.

Sementara itu, berdasarkan pantauan SIGAP, padi milik petani Desa Cikedung Lor Kecamatan Cikedung Kabupaten Indramayu, Jawa Barat terancam gagal panen akibat serangan hama wereng 2 hari lalu.

Hal ini dikatakan Sekretaris Desa Cikedung Lor , Johar Ma`nun kepada wartawan di Indramayu, Senin (19/7).

Dirinya menuturkan, akibat hama tersebut, terpaksa para petani melakukan panen dini untuk menghindari serangan hama wereng lebih lanjut.

"Serangan hama wereng terhadap tanaman padi pada musim tanam gadu (kedua) di sejumlah wilayah di Kabupaten Indramayu semakin meluas. Akibatnya, para petani didesanya merasa resah, padahal menunggu panen hanya beberapa pekan lagi," ujar Johar Ma`nun .

Dikatakannya, cara-cara mengatasi serangan hama wereng masih belum dikuasai oleh petani yang salah satu di antaranya memanen secara dini.

Kondisi ini menurutnya, menyebabkan hasil panen sangat mengecewakan. Biasanya dari 1 hektare sawah diperoleh 7 ton gabah kering, saat ini jika dipanen hanya diperoleh 1 ton.

Menurutnya, bagi petani yang rajin menyemprotkan obat antiwereng dalam waktu tiga hari sekali,  lahannya terhindar hama wereng . Namun bagi petani dengan modal tanam pas-pasan, sulit melakukan penyemprotan obat antiwereng.

Sementara itu, Jarkasih (50), salah seorang petani di Desa Cikedung Lor Kecamatan Cikedung Indramayu , Senin (19/7) mengemukan serangan hama wereng yang terjadi kali ini benar-benar membuat para petani kehilangan harapan. Pasalnya, dalam waktu cukup singkat padi yang telah dipelihara dalam waktu kurang dari 3 bulan lumpuh layu.

Jakarsih menambahkan, saat ini yang cukup dicemaskan para petani bukan cuma wereng batang cokelat (WBC) tetapi juga wereng batang hijau (WBH). Sebab bila terserang wereng jenis WBH, maka langsung tak kurang dari satu pekan serangan tersebut langsung meluas dan merata hingga bulir-bulir padi tak sampai terisi dan yang dipanen kebanyakan padi hampa.

Para petani di wilayah pantai utara Indramayu berharap Dinas Pertanian dan Peternakan secepatnya turun tangan untuk mengatasi serangan hama tersebut, supaya musim tanam berikutnya selamat dari ancaman serangan hama wereng. (laporan rusman/ant)

 

 

Arsip Berita