Jumat, 25 Mei 2012
Industri Makanan Bertahan Tak Naikan Harga
Sabtu, 17 Juli 2010 13:00
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 17/7 (SIGAP) - Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia Adhi Siswaja Lukman mengatakan, pelaku industri makanan dan minuman bertahan tidak menaikkan harga sampai Lebaran meski harga beberapa bahan baku mengalami fluktuasi.

"Tentu ini berpengaruh, tapi industri besar masih bisa bertahan karena punya stok bahan baku untuk satu sampai dua bulan ke depan," katanya saat dihubungi dari Jakarta, Jumat.

Menurut Adhi, pelaku industri makanan dan minuman berusaha tidak menaikkan harga sampai Ramadhan dan Idul Fitri yang tahun ini jatuh pada Agustus dan September 2010.

Dirinya berharap cuaca segera membaik sehingga pasokan beberapa bahan baku seperti cabai dan bawang yang saat ini harganya naik akibat gangguan pasokan, kembali normal dalam satu atau dua bulan ke depan.

Namun, dirinya melanjutkan, jika ketidakstabilan pasokan akibat faktor cuaca terus berlanjut maka dua atau tiga bulan mendatang pelaku industri terpaksa menaikkan harga.

"Biasanya antara 10% sampai 15%, tidak bisa lebih dari itu, kalau terlalu besar bisa mempengaruhi penjualan," katanya.

Menurut Adhi, pasokan sebagian besar bahan baku industri makanan dan minuman berasal dari dalam negeri. Hanya beberapa bahan baku seperti cabai kering, terigu dan tepung telur yang harus diimpor karena belum tersedia di dalam negeri.

Adhi menjelaskan pelaku industri makanan dan minuman biasanya berusaha menekan dampak kenaikan harga bahan baku pada harga produk dengan mengurangi ukuran dan mencari bahan baku alternatif.

"Itu sudah berkali-kali dilakukan jadi sekarang sudah sulit mengurangi ukuran. Bahan baku alternatif juga sedikit. Jadi kalau terus seperti ini mungkin kami terpaksa menaikkan harga," ujarnya.

Faktor lain yang akan memaksa pelaku industri makanan dan minuman menaikkan harga jual produk adalah kenaikan tarif dasar listrik dan sistem penghitungan tarif listrik untuk industri.

"Dalam minggu ini perubahan sistem penghitungan akan diumumkan pemerintah, semoga kenaikan seperti yang semula dijanjikan. Kalau kenaikan terlalu tinggi kenaikan harga tidak bisa ditahan," katanya.

Di sisi pemerintah, Kenaikan tarif dasar listrik (TDL) per 1 Juli 2010  menyiapkan antisipasi rjsdinya kenaikan harga dan biaya operasinal di sektor perdagangan, industri. Pemerintah Provinsi DKI, seperti kepada BERITAJAKARTA.COM (14/7) meminta dinas dan instansi terkait di jajarannya segera melakukan antisipasi dampak kenaikan TDL terhadap pertumbuhan perekonomian ibu kota dan inflasi DKI hingga akhir  tahun.

Beberapa langkah antisipasi yang akan dilakukan Pemprov DKI yaitu, mensosialisasikan dampak kenaikan beban produksi pada pelaku sektor industri dan perdagangan, serta memantau harga bahan makanan di pasar tradisional agar tidak melambung tinggi sehingga dapat memicu inflasi.

Langkah lainnya yaitu, meminta agar seluruh jajaran menerapkan sistem hemat listrik di lingkungan Pemprov DKI. Sehingga beban pembayaran listrik yang diambil dari APBD DKI tidak membengkak akibat dari pemakaian yang berlebihan. Dengan antisipasi itu, diharapkan kenaikan tarif listrik tidak lantas menyebabkan keterpurukan kondisi ekonomi di Jakarta.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, mengeluarkan instruksi tersebut untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di DKI Jakarta tetap bergerak positif dan dapat menekan laju inflasi agar tidak meningkat tajam atau melampaui target yang telah ditetapkan. Tingkat inflasi di DKI sendiri tahun ini diperkirakan mencapai 4,5% yang tercantum dalam APBD DKI 2010. Sedangkan, asumsi pertumbuhan ekonomi tahun ini ditargetkan mencapai 5,25%. (laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita